Selamat Datang di Website Pribadi Agussalim – Widyaiswara Kementerian Kelautan & Perikanan RI – Mobile Contact: 085242074257

Category: Berita

Melatih Prajabatan ASN Buru Selatan

Komitmen Mutu BurselSelama seminggu Agussalim berada di Namrole ibukota Kabupaten Buru Selatan untuk membawakan materi Prajabatan yang dimandatkan oleh Badan Diklat Provinsi Maluku. Selaku seorang widyaiswara, melatih merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan baginya, disamping style dan performance saat melatih, juga apresiasi dari pihak-pihak penyedia Diklat Prajabatan yang sangat ramah dan baik dalam pelayanannya menjadi pelengkap kesenangan yang dinikmatinya selama berada dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Diklat Prajabatan yang digelar BKD dan Pelatihan Buru Selatan tanggal 28 Maret sampai 2 Juni terdiri atas tiga kelas, satu kelas Prajabatan Pola Baru dan dua kelas untuk ASN Kategori II (Honorer). Setiap kelas yang terdiri dari 40 puluh orang membuat suasana menjadi ramai. Pada Diklat ini, Agussalim dipercayakan melatihkan empat kompetensi yakni Dinamika Kelompok; Wawasan Kebangsaan, Pola Pikir ASN Sebagai Pelayan Masyarakat dan Komitmen Mutu. Khusus untuk kelas Prajabatan Pola Baru, terdapat peserta yang berasal dari Kabupaten Buru sebanyak 11 orang.

Kelas Umum Prajab BurselPengalaman melatih di luar bidang Perikanan ini membuat perbendaharaan ilmu pengetahuan yang dimiliki Agussalim semakin beragam. Selain itu, dengan jam terbang yang semakin tinggi, kompetensi melatihnya pun semakin terasah dengan baik. Bonus lain dari semua itu adalah tumbuhnya jaringan-jaringan baru yang berasal dari sesama pelatih, pelaksana Diklat, dan teristimewa para peserta Diklat sekitar 120 orang itu. Tentu saja bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kegiatan Diklat adalah honor bagi Widyaiswara (jumlahnya cukup fantastis untuk ukurannya saat ini) yang menjadi hadiah bagi diri dan keluarga.

Peserta mata latihan Pola Pikir ASN Sebagai Pelayan Masyarakat mengaku sangat senang dengan materi yang dibawakan Agussalim terebut. Menurut sebagin besar mereka, sejak saat itu mereka berkomitmen untuk meninggalkan pola pikir lama yang cenderung negatif dan menggantinya dengan mindset positif melalui mekanisme “Change Your Mind” versi Agussalim, yang menggabungkan antara NLP (Neuro Linguistik Program) dan Quantum Ikhlas. Para peserta terharu sampai menitikan air mata saat salah satu bagian materi tersebut berlangsung, demikian pula halnya saat materi telah selesai, sebagian peserta menangis karena bahagia senang dan harus bercampur jadi satu. Hal itu tentu saja sontak membuat Agussalim ikut terharu karena ternyata materi yang untuk pertama kalinya dia bawakan berhasil diserap dengan baik oleh peserta.

Bersama Wabup BurselAgussalim sangat bersyukur, selain pengalaman mengajar yang bertambah, juga pengetahuan tentang beragam ilmu juga semakin mendalam. Contohnya tentang penerapan pola pikir yang baik menjadi semakin jelas baginya untuk senantiasa mengirimkan sinyal positif ke alam semesta dan semakin huznuzon kepada Allah Sang Pencipta. Menurutnya hal ini merupakan modal yang sangat besar bagi kehidupan di masa mendatang, karena sesungguhnya sukses yang ditemui seseorang berawal dari sukses yang ada dalam mindset dan perasaannya (alam bawah sadarnya), yang dipancarkan ke alam semesta dan direspon dengan hal yang sama (pendukung kesuksesan) sehingga Allah Sang Pencipta memenuhi doa-doa yang selaras.

Pada kesempatan ini pula Agussalim mendapat kehormatan bisa berfoto bersama Wakil Bupati Buru Selatan periode 2016-2020, Ayub Seleky. Selalu saja ada bonus perjalanan yang diperolehnya di setiap melakukan perjalanan baik ke daerah maupun ke ibu kota.

Menggalakkan Gerakan Konservasi di Kawasan Timur Indonesia

Membuat Bioreeftek di SananaKonservasi adalah upaya perlindungan sumberdaya alam agar lestari dan berkelanjutan. Konservasi perairan bertujuan agar sumberdaya alam perairan (laut, pesisir dan pulau-pulau kecil) lestari dan dapat memberikan manfaatnya secaraberkelanjutan bagi masyarakat dan bangsa. Konservasi perairan mulai banyak digalakkan di tanah air menyusul banyaknya kerusakan di wilayah pesisir dan laut di tanah air, yang terjadi akibat pengelolaan yang kurang tepat. Untuk kawasan timur Indonesia sendiri dampak kerusakan akibat berbagai aktivitas di pesisir dan laut masih tergolong sedang dan belum terlambat untuk diselamatkan agar sumberdaya kembali pulih dan memberikan manfaat yang besar bagi pembangunan. Hal ini mendasari keinginan yang kuat dari Tim Pelatih Konservasi Perairan BPPP Ambon untuk melakukan pengembangan kapasitas masyarakat agar secara aktif dan kolektif melakukan upaya konservasi atas sumberdaya pesisir yang mereka miliki.

Kawasan timur Indonesia terkenal dengan wilayah perairan laut yang luas dengan pulau-pulau kecil dalam jumlah ribuan. Hal ini menunjukkan luasnya wilayah pesisir dan laut di kawasan timur indonesia, serta menjadi daerah yang dominan dihuni oleh penduduk. Di samping itu, kondisi masyarakat pesisir yang masih minim pengetahuan dan taraf ekonomi yang rendah, menyebabkan eksploitasi sumberdaya pesisir dan laut secara serampangan berpotensi membawa dampak kerusakan pada sumberdaya perairan. Sebelum hal tersebit terjadi terlalu jauh, maka penyadaran masyarakat akan pentingnya wawasan konservasi dalam pengelolaan sumberdaya adalah sesuatu yang urgen dilakukan saat ini.

Praktek Bioreeftek di Pantai Dullah LautAgussalim sebagai bagian integral dari Tim Pelatih Konservasi BPPP Ambon bersama-sama dengan timnya terus melakukan upaya peningkatan kapasitas masyarakat pesisir dan pulau-pulau di kawasan timur indonesia. Pelatihan Perikanan Berkelanjutan adalah salah satu jenis peningkatan kapasitas yang dilakukan olehnya. Di dalam pelatihan tersebut, masyarakat dilatih mengidentifikasi pergeseran base line sumberdaya pesisir serta penyebab pergeseran tersebut. Masyarakat dilatih untuk peka mengenali mana kegiatan yang berdampak merusak sumberdaya pesisir dan laut, baik itu kegiatan yang sifatnya perikanan maupun kegiatan non-perikanan. Masyarakat juga dilatih membangun strategi pengelolaan agar perikanan berkelanjutan dengan menghindari upaya penangkapan ikan yang merusak, baik alatnya atau pun caranya. Alat penangkapan ikan yang merusak misalnya pukat harimau, jaring bermata 1 inci dan sejenisnya, sedangkan cara penangkapan ikan yang merusak seperti bameti (ketika mencungkil karang), balobeh (jika menginjak karang) dan sejenisnya. Ada pula jenis kegiatan yang tujuannya perikanan tetapi baik alat maupun caranya sama-sama merusak yaitu menggunakan bom, potas, bore, tuba, akar bahar dan sejenisnya.

Sepanjang tahun 2014 hingga akhir 2015, berbagai daerah pesisir di kawasan timur indonesia telah menjadi bagian upaya konservasi perairan. Mulai dari Wakatobi dan Kolaka di Sulawesi Tenggara, sampai di pulau-pulau terluar Biak, bahkan sampai di daerah perbatasan dengan Papua Nugini di Skouw Tiga Kampung, Kota Jayapura-Papua. Di Maluku sendiri masyarakat yang sudah dilatih tersebar di berbagai daerah di antaranya Dullah Laut Kota Tual, Dobo-Kepulauan Aru, Pulau Haruku Maluku Tengah, Kawa-SBB, Jikumerasa-Pulau Buru, dan Kota Ambon. Di Papua Barat, pelatihan yang sama dilakukan di Kota Manokwari dan Raja Ampat. Di Maluku Utara, pelatihan Perikanan Berkelanjutan dilaksanakan di Sanana Kepulauan Sula.

Penurunan Bioreeftek di HarukuSepanjang kegiatan pelatihan di lima provinsi tersebut diperoleh data berbagai pergeseran sumberdaya (shifting base line) dan berbagai aktivitas yang menjadi penyebab pergeseran tersebut. Kerusakan pesisir berupa penurunan drastis pada vegetasi mangrove di lokasi pelatihan pada umumnya disebabkan oleh penebangan pohon mangrove untuk tujuan bahan kayu bakar dan bangunan rumah. Penurunan populasi penyu yang di beberapa tempat sampai pada tingkat ekstrim disebabkan oleh penangkapan penyu dan telurnya untuk tujuan dijual dan konsumsi. Kerusakan karang umunya disebabkan oleh pengeboman ikan, dan sebagian disebabkan oleh penambangan karang serta kegiatan balobe dan bameti. Selain rusaknya berbagi jenis sumberdaya, perubahan lainnya yang teridentifikasi di antaranya adanya sedimentasi oleh limbah dari aliran sungai, bahkan ada yang berupa limbah tambang yang sangat merusak seperti yang terjadi di Hakatutobu, Kolaka. Pergeseran base line yang lainnya adalah terjadinya perubahan jarak tangkap atau atau fishing ground para nelayan menjadi semakin jauh. Hal ini dikenal dengan istilah range collapse.  Dampak lain yang teridentifikasi adalah punahnya atau berkurangnya populasi beberapa jenis spesies tumbuhan maupun hewan perairan seperti triton, kima, bambu laut, ikan napoleon, pari, dan beberapa jenis ikan lainnya.

Sampah yang dibuang di banyak tempat di pesisir secara tidak teratur ikut memberi andil yang besar terhadap kerusakan sumberdaya pesisir. Sebagian sampah susah diurai sehingga mengganggu kehidupan karang dan biota perairan. Sampah juga menyebabkan sedimentasi perairan sehingga menurunkan kesuburan dan produktivitas perairan. Aktivitas yang banyak dilakukan di pesisir juga adalah penambangan pasir untuk membangun rumah dan bangunan lain oleh masyarakat pesisir. Bahkan di beberapa tempat pasir menjadi barang yang diperjualbelikan sehingga diekploitasi secara terus menerus. Kondisi ini menyebabkan abrasi pantai dan tumbangnya pohon-pohon pantai dalam jumlah yang banyak. Bahkan sebagian rumah penduduk di pesisir Wangel rubuh tertimpa gelombang laut disebabkan karena permukaan pasir di pantainya berkurang sampai kedalaman sekitar 2 meter lebih.

menggali kebutuhan masyarakatBerbagai hal di atas adalah kondisi yang ditemui di lapangan dan diperoleh datanya melalui Focus Group Discussion (FGD) peserta pelatihan Konservasi bersama para pelatih. Pelatihan juga berisi simulasi tragedy of the common sebagai akibat dari sistem pengelolaan common property dan open acces sumberdaya perikanan. Simulai ini menggambarkan bahwa motif ekonomi menjadi alasan eksploitasi sumberdaya sampai kepada perebutan sumberdaya oleh masyarakat. Pelatihan juga merangsang peserta untuk mengidentifikasi alat tangkap ikan dan cara penangkapan ikan yang merusak lalu merubahnya menjadi penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Bagian penting dalam pelatihan Konservasi Perikanan Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh Agussalim dan Tim Pelatih dari BPPP Ambon adalah peserta berlatih membuat media tumbuh terumbu karang berupa blok beton yang di atasnya bersusun tempurung kelapa yang berisi campuran semen dan pasir. Media ini dikenal dengan istilah bioreeftek. Bioreeftek dipersiapkan menjadi media tempat menempelnya planula karang yang akan tumbuh menjadi terumbu karang yang baru dalam kurun waktu lebih dari 1,5 tahun. Media ini efektif untuk merehabilitasi terumbu karang yang rusak, dan efisien diduplikasi oleh masyarakat karena membutuhkan sumberdaya yang murah dan mudah diperoleh di mana saja. Bioreeftek sekaligus menjadi tempat bermainnya ikan-ikan mengingat strukturnya yang memiliki sekat-sekat seperti labirin yang bisa ditempati bermain ikan.

Dalam upaya meningkatkan berbagai pengetahuan tentang konservasi untuk disampaikan ke masyarakat, maka selaku pelatih Agussalim senantiasa berusaha meningkatkan kapasitas pribadinya melalui berbagai pelatihan baik pelatihan maupun Training of Trainer (ToT). Pelatihan yang dia ikuti sepanjang tahun 2014-2015 antara lain: pelatihan pemantauan biofisik bawah air, ToT pelatihan pemantauan biofisik Kawasan Konservasi Perairan (KKP), Scuba Diving, ToT Pariwisata Bahari di KKP, International Training MPAG (Marine Protected Area Governance), Penataan Ruang dan Jejaring KKP, Workshop Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), Sustainable Tourism, Pemantauan Kebutuhan Peningkatan Kapasitas Pengelola KKP, dan Assesor Kompetensi Konservasi.

?????????????

Berbagai tanggapan dan ungkapan terima kasih dari masyarakat yang menjadi peserta pelatihan tak terhitung jumlahnya. Masayarakat selalu dengan kesan mendalam melepas kepulangan Tim Pelatih BPPP Ambon di setiap selesai kegiatan pelatihan. Di antara masyarakat tersebut ada yang berterimakasih dan mengatakan bahwa selama ini kami hanya tau merusak karang, tetapi kini kita bisa buat bioreeftek sendiri untuk menumbuhkan karang kita (pernyataan dari Kepala Desa Pasi di Padaido-Biak). Ada pula yang menyayangkan pengetahuan konservasi ini terlambat mereka ketahui, sehingga lingkungan mereka keburu rusak sebelum mereka sadar aktivitas apa saja yang merusak lingkungan. Masyarakat pada umumnya bertekad akan menjadi pelopor dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir dan laut. Agussalim juga pernah diundang menjadi pelatih konservasi pada pelatihan yang dilaksanakan oleh Pemda Kabupaten Biak, karena tahun sebelumnya telah melatih masyarakat di Biak untuk pelatihan yang sama.

Meraih Penghargaan Adibhakti Minabahari (AMB) Kategori Widyaiswara Berprestasi

Di depan Istana NegaraJumat/11 Desember 2015 adalah peristiwa sangat berharga bagi Agussalim, hari ini untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Istana Presiden RI, disebabkan karena dia memperoleh penghargaan dai Kementerian Kelautan dan Perikanan tempatnya mengabdi sebagai pelatih (Widyaiswara). Penghargaan AMB ini sekaligus juga menjadi hadiah istimewa bagi BPPP Ambon. Tahun ini BPPP Ambon berhasil memperoleh dua penghargaan untuk dua kategori yakni Widyaiswara Berprestasi dan Instruktur Berprestasi. Widyaiswara Berprestasi diraih oleh Agussalim, S.Pi, M.Si, dengan perolehan Juara II Nasional. Instruktur Berprestasi diraih oleh Indra Cahya, S.St.Pi, M.Si, dengan perolehan Juara III Nasional. Kedua SDM berprestasi ini masing-masing mendapatkan berbagai penghargaan mulai dari piagam, piala, sampai pada uang tunai belasan juta rupiah. Hal yang paling istimewa dari penghargaan AMB tahun ini adalah karena para peraihnya mendapatkan undangan untuk makan siang bersama Presiden Jokowidodo di Istana Negara Jakarta Pusat, didampingi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumberdaya Rizal Ramli serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiatuti. Ini adalah prestasi yang sangat besar terkhusus bagi dua orang pelatih dari BPPP Ambon ini, dan menjadi hadiah istimewa bagi BPPP Ambon yang harum namanya di tingkat nasional karena memiliki SDM berprestasi.

Agussalim mengatakan bahwa penghargaan ini tidak pernah terbanyangkan olehnya akan diraihnya. Selama ini dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai pelatih di bidang konservasi perairan. Bahkan yang paling dia nikmati ketika dengan senyum haru para peserta menyatakan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas pengetahuan yang diperolehnya melalui pelatihan konservasi yang dilakukan oleh BPPP Ambon dengan Agussalim sebagai pelatihnya. Di Biak, seorang peserta menyatakan bahwa selama ini dia hanya tahu merusak karang, tetapi dengan pelatihan konservasi dia menjadi tahu membuat media tumbuh karang. Di Pomalaa, Kolaka, seorang peserta mengatakan kenapa Bapak Agussalim baru datang sekarang, seandainya dari dulu maka daerah kami tidak mungkin tidak serusak ini karena dampak tambang nikel.

Aktivitas melatih yang dilakukannya bersama Tim Pelatih Konservasi BPPP Ambon ternyata berbuah manis, Agussalim kemudian diganjar dengan Penghargaan Adibhakti Mina Bahari disebabkan karena dianggap menjadi Penggagas Konservasi Laut Kawasan Timur Indonesia. Hal ini menjadi penyemangat yang luar biasa baginya untuk lebih banyak berkarya untuk masyarakat baik dalam kegiatan pelatihan maupun penyebarluasan pengetahuan melalui karya tulis ilmiah dan artikel pada website dan media lainnya.

Pariwisata Bahari Di Kawasan Konservasi Perairan

Pariwisata bahari saat ini menjadi trend perbincangan peminat wisata terutama wisatawan yang cenderung destinasinya ke arah pesisir laut atau pulau. Indonesia selaku negara kepulauan memiliki banyak peluang untuk dikembangkan. Banyak daerah pesisir dan pulau yang potensial, terbentang dari Sabang sampai Merauke yang menunggu pengelolaan yang baik dan berkelanjutan. Terlebih lagi karena saat ini sektor maritim menjadi fokus pembangunan saat ini dan pariwisata dianggap mampu menyerap tenaga kerja dalam waktu cepat dan dalam jumlah besar. Hanya saja keterampilan pengelolaan yang masih minim menjadi kendala utama hampir setiap daerah sehingga potensi-potensi wisata tersebut masih belum memberi kontribusi pendapatan daerah yang optimal.

Proses berlatihMenindaklanjuti kondisi tersebut, Coral Triangle Center (CTC), yang merupakan NGO yang konsern pada pengembangan kapasitas SDM pengelola kawasan konservasi perairan khususnya di negara-negara CTI (The Coral Triangle Initiative), mengambil langkah konkrit dengan melaksanakan pelatihan Pariwisata Bahari Tingkat Operasional di Dalam Kawasan Konservasi Perairan. Pelatihan ini dilaksanakan di Sekolah Konservasi Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sejak tanggal 16 sampai 20 Nopember 2015. Materi dalam pelatihan ini di antaranya menggali potensi wisata di daerah baik potensi sumberdaya alam, budaya maupun sosial. Selain itu ditekankan pula pentingnya pariwisata berkelanjutan dan ekowisata. Pelatihan ini membangun keterampilan mempromosikan wisata edukasi, serta pelanan wisata dan pemanduan. Keterampilan membuat tata laksana (kode etik) wisata untuk mengantisipasi dampak wisata juga dilatihkan. Pada bagian akhir pelatihan, peserta berlatih mengambil data pemantauan wisata dan menyusun laporan pemantauan, agar pengelolaan wisata dapat terus diperbaiki dari waktu ke waktu.

Bagi yang ingin tahu lebih detail materi pelatihan pariwisata ini dapat mendownloadnya dan menggunakan untuk kemajuan pengelolaan pariwisata bahari di daerah masing-masing. Bila membutuhkan pelatih untuk pengembangan kapasitas pengelola pariwisata bahari, Anda dapat menghubungi kontak yang tersedia pada web ini. Semoga bermanfaat.

  1. Kurikulum pelatihan pariwisata bahari
  2. Modul Pariwisata 1
  3. Modul Pariwisata 2
  4. Modul Pariwisata 3
  5. Modul Pariwisata 4
  6. Modul Pariwisata 5

Melihat Kearifan Konservasi di Haruku

Menanam mangrove di HarukuHaruku adalah salah satu pulau di Maluku Tengah yang terdiri atas beberapa desa/kampung, dan dihuni oleh dua komunitas agama yakni Muslim dan Kristen. Yang menarik di Haruku adalah adanya dewan adat yang dikenal dengan nama “Kewang”. Kewang mengawal pelaksanaan sasi dan sejumlah kegiatan adat lainnya di Haruku. Kewang dikepalai oleh seorang Kepala Kewang, dan menempati Rumah Kewang yang khas. Kepala Kewang di Haruku adalah Bapak Elly Kakisyina, seorang penggiat konservasi lingkungan berbasis budaya dan kearifan lokal Maluku. Beliau adalah seorang yang sangat dikenal di Maluku baik oleh praktisi akademik maupun pemerhati lingkungan. Berbagai kiprah beliau dituliskannya dalam sebuah buka berisi bait-bait pantun yang diberinya judul Kapata.

Bersama Bpk Eli KakisyinaMengunjungi Haruku tak jauh bedanya dengan studi banding konservasi, karena di Haruku terdapat kearifan lokal yang sangat terkenal yakni “Sasi Lompa”, yang dikenal masyarakat jauh sebelum instilah konservasi diperkenalkan oleh dunia pendidikan. Selain Sasi Lompa, Kepala Kewang Haruku juga aktif melakukan reboisasi mangrove pada wilayah pesisir Haruku, menangkarkan maleo dan membantu penetasan penyu serta membawanya ke laut. Kewang Haruku juga berfungsi melindungi hutan pada lahan atas, serta menjaga terumbu karang pada dasar perairan.

 

Pengambilan Data Bawah Laut di Karimunjawa

Karimunjawa merupakan pulau eksotis di perairan Jawa yang terletak di antara Pulau Jawa dan Kalimantan. Kepulauan Karimunjawa terdiri atas 27 pulau dengan 5 pulau yang berpenghuni. Sebagai wilayah kepulauan, Karimunjawa memiliki keindahan bawah laut yang sangat menawan. Perjalanan ke Karimunjawa bisa ditempuh dengan menggunakan kapal fery (ASDP) atau kapal penumpang tradisional atau dengan pesawat udara. PerjalanaKarimunjawa Google earth.jpgn dengan kapal fery adalah yang paling banyak digunakan masyarakat, yang naik dari Pelabuhan Fery Jepara, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam perjalanan.

Karimunjawa yang konon asPesisir Karimunjawaal katanya adalah kremun-kremun atau samar-samar, merupakan sekumpulan pulau yang memang kelihatan samar dari perairan. Sesampai di pelabuhan Karimunjawa, mata kita kita akan disambut dengan pemandangan asri paduan hijaunya gunung dengan birunya laut serta kapal-kapal yang ramai bertambat. Bagi sebagian besar orang di Jawa Tengah, Karimunjawa merupakan daerah wisata sehingga orang yang berkunjung kesana cenderung dianggap punya keperluan utama untuk wisata atau piknik. Karimunjawa juga masih kental dengan tadisi dan budaya Islam peninggalan Sunan Muria. Hal itu terlihat pada kegiatan saat pernikahan, aksesoris Islami seperti tasbih, tongkat dari kayu Dewandaru (endemik Karimunjawa), suara azan dari mesjid-mesjid yang bersahut-sahutan saat waktu sholat, serta cerita-cerita rakyat yang ada pada masyarakat Karimunjawa.

Alun-alun Karimunjawa malam hariTerdapat pula alun-alun (lapangan) yang menjadi sentral kegiatan masyarakat Karimunjawa. Siang dan sore hari alun-alun tersebut menjadi tempat berolahraga, sore hari para penjual hasil laut seperti berbagai jenis ikan, cumi, udang, lobster, kepiting dan sebagainya mulai berjejeran di sepanjang pinggir alun-alun. Demikian halnya dengan penjual  pakaian dan aksesori ciri khas Karimunjawa yang mulai buka sejak jam empat sore hari. Para pengunjung Karimunjawa mulai ramai berdatangan ke alun-alun sejak sore hari, sambil berjalan-jalan memilih-milih ole-ole buat orang di rumah, mereka banyak yang memesan ikan bakar, atau es kelapa muda, bahkan ada juga kelapa bakar. Setelah pesanan mereka siap, lalu para pengunjung duduk di alun-alun menghadap meja setinggi 30 cm beralas terpal yang dihampar di atas rumput hijau alun-alun. Aktivitas itu berlangsung sampai sekitar jam 10 malam di setiap malam. Para pengunjung ramai berbaur, baik pengunjung domestik maupun mancanegara, berkumpul menikmati suasana santai dan nyaman di alun-alun Karimunjawa.

Bermain bersama ikan di Menjangan KecilHal yang paling istimewa di Karimunjawa adalah pemandangan lautnya yang sangat indah menawan. Keindahan itu terletak pada paduan gugusan pulau dengan pesisir yang berpasir putih, pohon-pohon cemara di pesisir, dan keanekaragaman karang yang sehat dengan kekayaan berbagai jenis ikan dan biota laut yang menjadi penghuninya. Jarak antar pulau-pulau yang berdekatan juga mendukung keindahan tersebut bisa dinikmati satu persatu. Karimunjawa juga terkenal dengan penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar. Keindahan Karimunjawa tidak bisa dilepas dari keindahan alam laut, sehingga mempertahankan eksistensi Karimunjawa adalah dengan mempertahankan kelangsungan hidup biota lautnya.

Para pengambil data bawah airSebuah even istimewa diselenggarakan oleh Coral Triangle Center (CTC), NGO yang mengurusi terumbu karang di Segitiga Karang Dunia, di Karimunjawa. Even tersebut adalah Uji Coba Pelatihan Pengambilan Data Biofisik Bawah Air. CTC merekrut peserta dari berbagai institusi di antaranya KP3K Pusat (Yusuf Ray), UPT KP3K di Pekanbaru (Yuwanda Ilham), Lampung (Ade), Banten (Pitro). Peserta juga ada yang berasal dari Balai Diklat Perikanan Tegal (Irwan Suneth) dan Ambon (Agussalim). Terdapat juga peserta dari universitas yakni Dosen dari Undip (Agus T) dan Udayana (Dodik). Peserta juga ada yang berasal dari pengelola Taman Nasional Karimunjawa (Endang Abdurrahman). Para pelatih adalah instruktur dari CTC yakni Andreas Muljadi dan Silvianita Timothius. Di tengah-tengah pelatihan berlangsung hadir pula Hesty Widodo yang merupakan salah seorang pejabat di jajaran CTC. Pelatihan ini juga terselenggara dengan baik berkat bantuan para mahasiswa selam dari Undip yakni Rizky, Andra, Ilham dan Yoel.

Mooring Buoy di Menjangan KecilPengambilan data biofisik bawah air dilakukan di beberapa tempat. Pengambilan data pertama di perairan Pulau Menjangan Kecil. Data yang diambil disana adalah data substrat (berbagai jenis karang), lamun dan ikan. Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman dengan menggunakan metode PIT. Khusus untuk pengambilan data lamun digunakan metode quadrat transect. Dari hasil pengambilan data diperoleh keterangan bahwa kondisi biota perairan pada Menjangan Kecil cenderung masih sehat dan kondisi itu harus dipertahankan. Menjangan Kecil merupakan salah satu spot wisata Karimunjawa yang banyak didatangi pengunjung untuk menyelam atau sekedar snorkeling. Salah satu wujud pengelolaan wisata berkelanjutan disana adalah tersedianya mooring buoy (pelampung tambat) sehingga kapal-kapal pengunjung tidak menurunkan jangkar untuk berlabuh sehingga tidak merusak karang.

Pegambilan Data Bawah AirPengambilan data kedua dilakukan di sekitar terumbu karang Gosong Cemara di dekat Pulau Cemara Kecil, Karimunjawa. Di sini kapal terpaksa berlabuh jangkar karena belum adanya mooring buoy di sekitar tempat itu. Tidak adanya mooring buoy mungkin juga disebabkan karena tempat itu bukan merupakan pulau sehingga tidak terdapat daratan, hanya beberapa bongkahan batu karang yang menonjol ke permukaan saat air surut. Namun dari banyaknya pengunjung yang datang silih berganti maka sudah harus menjadi perhatian pengelola agar menempatkan mooring buoy sedikitnya 3 buah di tempat tersebut. Pengambilan data di tempat ini difokuskan pada data ikan dengan menggunakan PIT dan long swim sejauh 400 meter. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa 3 ikan indikator yakni parrotfish atau kakatua, kulit pasir dan beronang masih banyak terdapat di Gosong Cemara. Keberadaan 3 spesies indikator utama ini menunjukkan masih sehatnya kondisi perairan. Pada data juga terlihat adanya ikan kerapu, lencam, clownfish serta cumi. Terdapat pula COT yakni acantaster blanchii yang merupakan predator bagi karang sekitar dua spesies.

Hasil pengambilan  data kemudian diolah melalui program exel agar diperoleh informasi yang bisa menjadi rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh pengelola KKP yakni pemerintah Karimunjawa. Dari hasi pengolahan data diperoleh rekomendasi berupa perlunya pendidikan konservasi bagi masyarakat Karimunjawa terutama bagi tour guide, dive operator dan semua yang terlibat dalam pengelolaan wisata Karimunjawa. Rekomendasi lainnya yakni perlunya pemasangan mooring buoy di spot-spot wisata termasuk Gosong Cemara dalam jumlah yang memadai. Rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti juga adalah menetapkan persyaratan sertifikasi selam bagi pengunjung spot terumbu karang, minimal A1.

Team Pengambilan DataUjicoba pelatihan ini merupakan untuk yang pertama kalinya dilakukan oleh CTC. Hasil Ujicoba Pelatihan ini kemudian akan disampaikan kepada Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan untuk dinilai dan selanjutnya diadopsi agar diterapkan pada balai-balai diklat lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal ini juga berarti bahwa ini merupakan kali pertama pendataan tentang kondisi daya dukung lingkungan yang dimiliki oleh Gosong Cemara dan bisa menjadi data dasar atau T0 untuk pengelolaan Gosong Cemara, dan menjadi acuan penilaian untuk monitoring dan evaluasi tentang kondisi Gosong Cemara. Dan mereka yang melakukan pengambilan data ini adalah Tim pertama yang melakukan pengambilan data bawah air di Karimunjawa. Harapan CTC dan para peserta, data ini bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan Karimunjawa, dan kegiatan ini menjadi role model pengambilan data bawah air di seluruh tanah air. Semoga.

Kontributor: Agussalim (Salah satu anggota Tim dalam kegiatan ini)

 

 

 

Bersama Suku Bajo-Wakatobi, Berlatih Menangani Ikan Kerapu Sunu Hidup

Penyerahan SertifikatWakatobi 10 Oktober 2014, Agussalim selaku supervisor pelatihan dari BPPP Ambon menghadiri pelaksanaan pelatihan di P2MKP Piyuka Setia Mandiri di Mola Utara. Dalam sambutannya pada pembukaan pelatihan dia mengajak masyarakat untuk melihat sisi positif pemerintah yang di antaranya terbukti melalui program kegiatan pengembangan kapasitas pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan pelatihan. Dia juga menambahkan pentingnya tiga hal utama dalam membangun kemajuan masyarakat yakni pendidikan/pelatihan, internet sebagai media komunikasi, dan jejaring kerja untuk meningkatkan potensi pendapatan. Menurut Agussalim, ketiga hal tersebut sangat penting menjadi perhatian masyarakat apalagi mengingat bahwa dalam waktu dekat mau tidak mau masayarakat harus beradaptasi dengan masyarakat ekonomi Asean atau MEA.

di KJA di MolaHj. Sitti Nurhayati atau akrab disapa Ibu Haji, selaku Ketua Pengelola P2MKP Piyuma Setia Mandiri Kabupaten Wakatobi menyatakan terimakasih yang dalam kepada BPPP Ambon yang memberikan perhatian kepada masyarakat Wakatobi dengan memfasilitasi pelaksanaan pelatihan di P2MKP Piyuma. Menurutnya alasan Piyuma berfokus pada penanganan ikan kerapu sunu adalah agar para nelayan paham dan mampu menerapkan pola penanganan yang standar sehingga produknya berupa ikan kerapu sunu hidup dapat diterima dipasar ekspor. Haji Nurhayati yang sudah 20 tahun membina nelayan juga memberi motivasi peserta bahwa dengan cara penanganan yang baik maka pendapatan masyarakat melalui kegiatan penangkapan ikan kerapu berpotensi membangun ekonomi masyarakat agar lebih meningkat.

Muhammad Nur dan Nanda yang bertindak selaku pelatih pada pelatihan ini memberikan materi seputar penanganan ikan kerapu sunu hidup berkualitas pemasaran. Dalam materinya mereka  menyampaikan tentang penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan berupa pancing, serta menghindari penangkapan yang merusak lingkungan seperti potasium, bom, kompressor dan alat lain yang merusak. Wawasan konservasi juga diberikan bagi peserta agar selain memburu keuntungan ekonomis mereka juga ingat untuk melestarikan lingkungan. Kegiatan praktek berupa penanganan ikan kerapu sunu hidup dilakukan di atas kapal dan di keramba jaring apung.

Foto bersama di KJASelain menjadi supervisor pelatihan, Agussalim juga memberikan materi suplemen buat peserta pelatihan berupa pemanfaatan internet untuk kewirausahaan perikanan. Dalam materi tersebut, dia menyampaikan bahwa saat ini setiap produk khas daerah bisa dipasarkan tidak saja di pasar lokal tetapi juga pasar luas melalui media online. Agussalim memacu semangat para nelayan untuk belajar internet yang bisa dilakukan melalui smartphone yang juga banyak dimiliki nelayan. Selain itu widyaiswara BPPP Ambon ini juga menyampaikan tentang pentingnya jiwa wirausaha dimiliki oleh setiap pelaku utama bidang perikanan, karena dengan pengetahuan wirausaha, maka produk yang dihasilkan oleh nelayan bisa dijual dengan nilai yang layak, selain itu pengetahuan wirausaha juga akan membangkitkan kreativitas dan inovasi usaha para nelayan untuk membuat diversifikasi produk hasil tangkapan atau budidaya mereka.

 

Kaligrafi Kulit Kerang Mutiara

Lengkapi keindahan rumah Anda dengan menempatkan hiasan kaligrafi di dinding rumah Anda. Kaligrafi tersebut berbahan dasar kulit kerang mutiara yang berkualitas tinggi dan awet (tidak lapuk). Kaligrafi tersebut dikerjakan dengan seni yang tinggi dan unik. Kehadirannya menambah kualitas keindahan pada rumah Anda. Silahkan menghubungi kami untuk pemesanan.

Kaligrafi Kulit Kerang mutiara

Agussalim 085242074257 (Ambon)

Rahmat 085243418685 (Makassar)

 

Training Internasional Penguasaan Kawasan Konservasi Perairan di Bali

Foto bersamaBali, 16 sampai 19 September 2014, berlangsung International Training Workshop on Marine Protected Area Governance yang diikuti oleh ratusan peserta dari lingkup Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan. Turut menjadi peserta adalah Agussalim bersama 9 orang lainnya dari BPPP Ambon termasuk Kepala BPPP Ambon, Mathius Tiku.

Training dan workshop dibuka secara resmi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Syarif Cicip Sutardjo, didampingi oleh Kepala BPSDM KP Suseno Sukoyono, di Perikanan Samudera Besar (PSB) Benoa. Turut hadir dalam pembukaan beberapa perwakilan dari negara yang tergabung dalam The Coral Triangle Initiative (CTI) seperti Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Tema yang diusung adalah Blue Economy selaku Blue Solution dalam pembangunan kawasan konservasi perairan (KKP).

SAMSUNG CAMERA PICTURESKegiatan training dan workshop dilaksanakan di Inna Bali Beach Hotel yang berlokasi di Sanur. Training dan workshop ini menghadirkan pemateri dari berbagai negara yang menjadi anggota dari NGO seperti CTC, UNDP, IUCN, RARE, LMMA, NOOA, WWF, CI dan lainnya. Terdapat pemateri dari Vietnam yang mengsharingkan keberhasilan pengelolaan KKP/MPA Pulau Chang, Vietnam. Terdapat pemateri yang menceritakan keberhasilan pengelolaan KKP di Florida, Solomon Island, dll.

Workshop berisi kegiatan bagaimana mengidentifikasi berbgaai kegiatan yang bisa dikategorikan blue economy dan bagaimana menerapkan blue economy dalam pengelolaan KKP. Juga berisi kegiatan identifikasi kompetensi yang dibutuhkan untuk mampu mengelola kawasan KKP, serta bagaimana memperoleh pelatihan yang mendukung pencapaian kompetensi tersebut. Workshop juga berisi bagaimana membangun building block untuk menguatkan pengelolaan KKP berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan seperti suara (legitimasi), kelayakan dan seterusnya.

SSAMSUNG CAMERA PICTURESebelum kegiatan kelas berlangsung, peserta terlebih dahulu menjalani field trip ke Nusa Penida teoatnya di Desa Jungut Batu Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.  Pada kegiatan ini peserta melihat kegiatan wisata di Nusa Lembongan, yang sangat ramai didatangi turis mancanegara baik Asia maupun Eropa. Peserta juga menyempatkan diri berdiskusi dengan pemerintah setempat tentang wisata dan kegiatan budidaya rumput laut di Jungut Batu. Selain itu para peserta juga melakukan wisata mangrove dengan menggunakan kano (perahu) yang memuat empat orang penumpang. Kegiatan terakhir dari field trip ini adalah melakukan penanaman mangrove di pesisir Nusa Lembongan.

Menjual Hiasan Kerang ke ka BDAKegiatan training dan workshop yang berlangsung selama empat hari ini dimanfaatkan oleh Agussalim untuk menjajagi pasaran kerajinan kulit erang mutiara selaku produk yang bernuansa blue economy (zero waste). Hasilnya adalah hiasan berbahan dasar kulit kerang mutiara hasil budidaya tersebut diserbu peserta. ada yang sekedar melihat dan mengagumi keindahannya, tetapi banyak pula yang berminat dan membelinya, yang bahkan ada yang harganya jutaan rupiah.

Membuat Bioreeftek Untuk Rehabilitasi Karang di Kepulauan Padaido Biak

Padaido Atas, Biak, 15 Agustus 2014, bersama-sama dengan penduduk Pulau Pasi dan Nyamsorem Distrik Aimando, Agussalim (widyaiswara BPPP Ambon) membuat bioreeftek untuk rehabilitasi karang di perairan selat Pasi. Bioreeftek yang terbuat dari rangka beton dan patok besi yang menjadi tempat bagi batok-batok kelapa (bio) tersebut dimaksudkan menjadi tempat tumbuhnya planula karang (reef) yang baru. Teknologi sederhana, murah dan mudah diduplikasi ini sangat disukai oleh masyarakat karena punya kesempatan berlatih membuatnya. Salah seorang peserta, Kepala Desa Pasi mengatakan, selama ini masyarakat tahunya hanya merusak karang, dengan pelatihan membuat bioreeftek ini masyarakat belajar menanam dan  menumbuhkan karang.

Foto Bersama Camat Aimando