Selamat Datang di Website Pribadi Agussalim – Widyaiswara Kementerian Kelautan & Perikanan RI – Mobile Contact: 085242074257

Category: Berita

Pelatihan Konservasi di School MPA Wakatobi Mendukung Blue Economy KKP

Selasa 13 Mei 2014, dalam kegiatan PelatihaMateri kelas oleh Agussalimn Konservasi (Perikanan Berkelanjutan) mendukung program Blue Economy Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dilaksanakan oleh BPPP Ambon, Agussalim membawakan materi-materi konservasi. Pelatihan yang rencananya berlangsung selama enam hari ini berisi materi-materi perikanan berkelanjutan. Agussalim membawa materi identifikasi dampak perikanan dan non perikanan, alat perikanan berkelanjutan, modivikasi alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan, penataan kawasan dalam ruang dan waktu, dan penegakan aturan.

 

praktek buat biorefftekPelatihan ini berlangsung di Aula School Marine of Protected Area milik BPSDM-KP di Wakatobi. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi, Drs. H. Nadjib Prasyad, Kabag BAU STP R.M. Toni Kususmo, perwakilan CTC, Denny Boy Mochran, Kasubag TU BPPP Ambon Tedjasari Mahedar S.Sos, Pemerintah Kecamatan Wangi-wangi Selatan, para pelatih konservasi dari BPPP Ambon, panitia pelatihan dan peserta pelatihan sebanyak 30 orangada berlangsung pembukaan pelatihan Konservasi (Perikanan Berkelanjutan) mendukung program Blue Economy di Aula School Marine of Protected Area milik BPSDM-KP di Wakatobi. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi, Drs. H. Nadjib Prasyad, Kabag BAU STP R.M. Toni Kususmo, perwakilan CTC, Denny Boy Mochran, Kasubag TU BPPP Ambon Tedjasari Mahedar S.Sos, Pemerintah Kecamatan Wangi-wangi Selatan, para pelatih konservasi dari BPPP Ambon, panitia pelatihan dan peserta pelatihan sebanyak 30 orang.

Camera 360Kepala Dinas KP Kabupaten Wakatobi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih yang sebsar-besarnya kepada BPPP Ambon yang telah berturut-turut mengalokasikan kegiatan di Wakatobi, karena BPSDM-KP dalam hal ini STP yang telah membangun sekolah konservasi internasional di Wakatobi yang kini menjadi kebanggaan masyarakat dan pemerintah Wakatobi. H. Nadjib Prasyad juga menyampaikan kepada peserta bahwa kekayaan Wakatobi yang terbesar saat ini adalah blue ocean (laut biru) dan terumbu karang, yang menjadi modal blue economy. Menurutnya pelatihan ini sangat relevan dengan program pembangunan Kabupaten Wakatobi tentang Perikanan Berkelanjutan. Laut biru butuh pengelolaan yang tepat agar masyarakat Wakatobi bisa hidup dengan lebih baik. Menurut H. Nadjib pengunjung Wakatobi cenderung meningkat dari tahun ke tahun sejak tahun 2008, yang ditandai dengan banyaknya maskapai penerbangan yang masuk di Wakatobi dan bertumbuhnya industri perhotelan. Kepala Dinas KP berpesan kepada peserta bahwa jualan utama masyarakat Wakatobi selain wisata adalah ikan segar yang hanya bisa terjaga keberadaannya jika masyarakat bekerjasama menjaga kekayaan laut Wakatobi.

Pada Pelatihan ini para peserta juga dibekali dengan kemampuan membuat perangkat perikanan berkelanjutan yang sederhana yaitu biorefftek atau teknologi pengembangan terumbu karang dengan menggunakan elemen dari mahluk hidup yaitu batok kelapa. teknologo sederhana ini setelah diteliti ternyata sangat baik untuk membantu pertumuhan karang-karang yang baru. selain itu biorefftek ini juga efektif dan ekonomis serta mudah membuatnya sehingga masyarakat bisa membuatnya sendiri. beberapa penelitian memperlihatkan bahwa karang sudah tumbuh pada substrat batok kelapa pada biorefftek dalam waktu sekitar 4 atau 5 bulan sejak biorefftek diturunkan di perairan yang subur untuk terumbu karang.

Praktek Lapang Pascasarjana Unpatti di Raja Ampat

Diatas KarstRaja Ampat, Pebruari 2014, menjadi lokasi praktek lapang bagi Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pattimura. Pada kegiatan praktek lapang ini, salah satu mahasiswa Pasca Unpatti yang ikut adalah Agussalim. Kegiatan praktek meliputi pendataan berbagai hal terkait konservasi dan tata ruang lokasi (Waiwou) terkait dengan peruntukan wilayah tersebut untuk pariwisata bahari. Dalam rangkaian praktek lapang ini terdapat pemaparan materi oleh beberapa NGO seperti CI (Conservation International) yang dibawakan oleh Meity, Papua Diving yang disampaikan oleh Mark Ammer (tokoh yang mempopulerkan Raja Ampat ke dunia), juga materi dari Kadis Pariwisata Raja Ampat, serta Kadis Perhubungan Raja Ampat (fasilitator praktek).

Camera 360Rangkaian praktek lapang juga berisi kunjungan ke spot wisata Pianemo (Wayag dua) yang keindahannya tak terlupakan. di Pianemo, terdapat karst (dinding karang) yang sangat indah, terdapat pula batu pensil (ada pula yang mengatakan batu penis), dan beberapa pulau gunung batu yang bisa didaki dan melakukan foto di atasnya.

EAFM Pertama di Dunia (Penetapan SK3 EAFM)

Senin, 17 Maret 2014, WWF bersama Direktorat SDI Dirjen Perikanan Tangkap KKP-RI mengundang para stakeholder perikanan untuk Workshop Penetapan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SK3) Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem (EAFM). Pertemuan ini dihadiri bukan hanya perwakilan Dinas Perikanan di Indonesia tetapi juga praktisi akademik dari berbagai perguruan tinggi, NGO, perusahaan perikanan, berbagai lembaga dan yayasan pemerhati perikanan dan juga dari Balai Diklat Perikanan Ambon (Agussalim).Workshop SK3 EAFM

Sambutan pertama dari Direktur CTI WWF Indonesia disampaikan oleh Imam Mustofa. Dalam sambutannya menyampaikan pengelolaan perikanan tidaklah mudah tetapi jika semua pihak bisa bekerjasama maka akan lebih mudah. Dia juga menyampaikan terimakasih atas kehadiran undangan, dan memohon maaf jika terdapat kekurangan. Pada kesempatan yang sama, Bambang Murtiyoso mewakili Ketua Komite Standar Kompetensi Bidang Kelautan Perikanan (Ir. Balok Budiyanto/Kapuslat KP), menyampaikan harapan bahwa dengan pelaksanaan workshop ini dapat menetapkan SK3 EAFM untuk menjadi standar kompetensi kerja SDM dalam lingkup Kelautan dan Perikanan dan kalau bisa didorong untuk mendapat pengakuan internasional.

Direktur Sumberdaya Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap RI, Toni Ruchimat, dalam sambutannya selaku Ketua Working Group EAFM 2014 menyampaikan bahwa sejak tahun 2009 Working Group EAFM telah terbentuk bersamaan dengan beberapa working group lainnya di lingkup CTI. Sejak Oktober 2013 Indonesia telah ditunjuk menjadi menjadi ketua Working Group CTC, selaku penghargaan terhadap advancenya upaya Indonesia melalui EAFMnya. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikan EAFM di lapangan, apalagi mengingat domain-domain EAFM cukup banyak. Menurut Toni, ke depan kami akan mendorong EAFM bukan hanya diputuskan oleh Dirjen tetapi menjadi Peraturan Menteri. Akan ada 3 kebutuhan keahlian pada pengelolaan perikanan yakni perencana pengelolaan, pelaksana pengelolaan, dan evaluator pengelolaan perikanan, sehingga dengan penetapan SK3 EAFM akan mendukung kebutuhan keahlian pengelolaan perikanan, dan juga menjadi media jenjang karir pejabat KP yang menjadi pengelola perikanan.

Sambutan Ka Badan SDM KPWorkshop ini dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Dr. Suseno. Dalam arahannya Suseno memulai dengan menyampaikan penghargaan kepada segenap pihak yang telah berupaya menyukseskan acara workshop ini. Pertemuan ini sesuai dengan SK No.17 Thn 2013 yang mengamanatkan adanya Tim Kompetensi Kelautan dan Perikanan. Selanjutnya menurut Suseno, kita menyiapkan sesuatu yang orang lain belum siapkan maka kita membuat sejarah, penetapan SK3 ini adalah baru pertama di dunia maka kita bagian dari sejarah. Workshop penetapan SK3 EAFM hari ini adalah konvensi yang untuk pertama kalinya di dunia. Ecosystem Approach dilauncing tahun 1980 dan 12 tahun kemudian baru diterima (1992) di Rio pada acara Earth Summit. Suseno menceritakan tentang pertemuan World Ocean Summit di San Fransisco yang dihadiri oleh para presiden dan pangeran di dunia termasuk Pangeran Charles. Kata Susesno, dalam pertemuan itu, John Carry (Menlu AS) dalam sambutannya menyampaikan bahwa kita harus memadukan antara ekonomi dan keberlanjutan. Selanjutnya Suseno menyampaikan bahwa dunia luar lebih tau tentang laut kita daripada kita sendiri, NOOA punya teknologi yang mengetahui laut Arafura jauh lebih detail daripada kita, karena itu kita harus bangun dari tidur. Suseno juga menyampaikan agar kita mau menyampaikan ke dunia luar tentang apa yang kita lakukan (profiling) karena dunia luar ternyata apresiatif terhadap upaya positif yang dilakukan di Indonesia. Pada bagian penutup sambutannya Suseno mengatakan bahwa  tidak ada sehelai daun pun yang jatuh di bumi tanpa seizinNya, demikian pula pertemuan dalam workshop ini maka lakukan yang sesuatu yang berarti.

Ibu-Ibu Persit Kartika Chandra Kirana Wilayah VII Wirabuana Dilatih Membuat Olahan Ikan

Wanita Persit PraktekWakatobi, Minggu (16/02) BPPP Ambon menyelenggarakan Pelatihan Diversifikasi Pengolahan Hasil Perikanan bagi Ibu-Ibu Persit Kartika Chandra Kirana Wilayah VII Wirabuana dalam bidang pengolahan hasil perikanan. Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Ambon menggelar pelatihan Diversifikasi Pengolahan Ikan dan Rumput Laut selama enam hari (16-21 Februari 2014) yang diikuiti oleh 30 istri tentara Korem 143 Haluuleo. Pelatihan yang digelar di Kabupaten Wakatobi ini, dibuka oleh Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 143/PD VII Wirabuana Korem 143/Haluuleo Arnita Nila Hapsari.

PraktekArnita Nila Hapsari dalam sambutannya mengatakan, sampai saat ini peran wanita di bidang perikanan khususnya pengolahan hasil perikanan di Wilayah VII Wirabuana masih sangat minim. Melalui pelatihan ini diharapkan peran Ibu-Ibu Persit Kartika Chandra Kirana Wilayah VII Wirabuana dalam bidang perikanan bisa lebih ditingkatkan terlebih dalam pengolahan dan pemasaran aneka olahan ikan dan rumput laut, tambahnya. Pada kesempatan yang sama Kepala BPPP Ambon Mathius Tiku, S.Pi, M.Si juga menyampaikan harapan melalui pelatihan diversifikasi pengolahan ikan dan rumput laut ini Ibu-Ibu Persit Kartika Chandra Kirana Wilayah VII Wirabuana memiliki pengetahuan, keterampilan dalam pengolahan ikan dan rumput laut, dan bisa dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi keluarga.

Dalam pelatihan ini para peserta dilatih berbagai produk olahan ikan yaitu abon ikan, kaki naga, fish finger dan nugget ikan, sedangkan produk olahan rumput laut yaitu manisan rumput laut, selai rumput laut dan stik keju rumput laut oleh Instruktur BPPP Ambon Rachel L. Wattimena, S.Pi dan Fiona A.B. Nikjuluw, S.Pi, M.Si. Adanya pelatihan pengolahan ikan dan rumput laut ini, diharapkan pada saat penangkapan ikan dan budidaya rumput laut melimpah, bisa diserap oleh Poklahsar untuk diolah lebih lanjut menjadi aneka olahan ikan dan rumput laut.

Foto BersamaKepala BPPP Ambon berharap agar kerjasama yang sudah dilakukan ini dapat terus berjalan dengan baik, sebagai mitra strategis dalam pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan, guna meningkatkan perekonomian masyarakat serta mewujudkan visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Rachel L. Wattimena

Inovasi Usaha Kerajinan Kerang Kaum Muda Kota Ambon

Selasa, 29 Oktober 2013, bertempat di P2MKP Sweet Hatukau Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, berlangsung pelatihan kerajinan kerang bagi pemuda pemudi Galunggung Desa Batu Merah Kota Ambon.  Pelatihan ini diikuti oleh 20 orang peserta. Mereka berlatih di bawah bimbingan 4 orang pelatih. upload2

Husen Assagaff yang merupakan ketua pengelola P2MKP Sweet Hatukau menyatakan bahwa, dari kegiatan ini para pemuda bisa mengembangkan usaha yang berpotensi mendatangkan pendapatan yakni kerajinan kerang mutiara. Selaku pelaku bisnis kerajinan kerang, dia memotivasi peserta agar melihat besarnya prospek pasar dari usaha kerajinan kulit kerang ini, karena terhitung masih langka jumlahnya di Indonesia bahkan di Maluku sendiri. upload9

Dalam kesempatan mendampingi pelatihan ini, Agussalim (Widyaiwara BPPP Ambon) mewakili BPPP Ambon, dalam sambutannya pada acara pembukaan pelatihan menyatakan bahwa latihan ini adalah wujud perhatian pemerintah dalam hal ini KKP untuk memberdayakan masyarakat sehingga bisa dikatakan bahwa pelatihan ini adalah dari masyarakat dan untuk masyarakat. Menurutnya, pelaku usaha di bidang Kelautan dan Perikanan memang menjadi fokus Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan untuk disupport dana dan pendampingan agar mampu menularkan kesuksesan usahanya kepada orang lain melalui kegiatan pelatihan.

burung cenderawasih dari kerangPelatihan yang berlangsung kurang dari lima hari ini menunjukkan output yang memuaskan, bukan hanya berupa 20 orang lulusan diklat tetapi juga karya seni hasil kerajinan kerang berupa hiasan dinding berupa gambar bunga, burung, nelayan dan burung cenderawasih. hasil kerjainan tersebut jika dirupiahkan sekitar 200 ribu per buah. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di Ambon apalagi mengingat potensi kerang mutiara cukup besar di daerah Ambon dan sekitarnya

Para pemuda Galunggung  yang ikut pada pelatihan ini di antaranya  Rustam, Iswan, Wandi, Fadli, Samrin, Faisal, Mulyadi, La Ode Jafar, serta seorang Pemuda senior La Dade dan dua orang cewek di antara sekian banyak peserta Lela Kiat dan Mirna.       upload3

Sustainable Tourism in Marine Protected Area

NOAA US bekerjasama dengan Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan Perikanan, melaksanakan Pelatihan Pariwisata Berkelanjutan di dalam Kawasan Konservasi Perairan atau Sustainable Tourism in Marine Protected Area (MPA) di Balai Diklat Perikanan Artembaga Bitung, Sulawesi Utara. Pelatihan diikuti oleh 30 orang peserta yang berasal dari beberapa lembaga lingkup KKP seperti Balai Diklat Perikanan, KP3K, Akademi Perikanan dan Sekolah Tinggi Perikanan, juga staf konsultan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Liang bunaken

Bahwa konservasi itu sangat penting untuk menjaga sumberdaya dan kawasan, iya, tetapi kemudian masyarakat senantiasa bertanya apa yang akan mereka peroleh dari konservasi itu sendiri, sementara dampak positif dari pemulihan suatu kawasan nanti bisa dirasakan dimasa depan (membutuhkan waktu yang sangat lama). Inilah salah satu jawabannya, pariwisata berkelanjutan. dengan kegiatan pariwisata yang dikelola dengan konsep sustainable maka masyarakat bisa segera mendapatkan penghasilan dan segera mengetahui strategi meminimalkan dampak dari kegiatan wisata di wilayah mereka.

 

 

 

 

 

Salah satu peserta adalah Agussalim, widyaiswara dari BPPP Ambon

Two Fish

Praktek Lapang PPS IK Unpati Ambon 2013

Anda dapat mendownload data hasil penelitian untuk refernsi laporan praktek lapang Prodi IK PPS Unpati 2013 dengan mengklik bagian ini

Menangkap Ikan dengan Purse Seine bersama Nelayan Ureng Maluku dan Nelayan Biak Papua

melimpah

Senin 17 Juni 2013 dini hari, sekitar pukul 04.00 WIT berlangsung setting (menurunkan jaring) di kapal KM. Martha Alfons milik BPPP Ambon yang sedang digunakan untuk operasi penangkapan ikan dengan purse seine di perairan Desa Ureng Kecamatan Lei Hitu Kabupaten Maluku Tengah. Operasi penangkapan ini selain dilakukan oleh nelayan Ureng, terdapat sekitar dua puluhan nelayan dari Kabupaten Biak Numfor – Papua yang sedang praktek lapangan di bawah bimbingan pelatih penangkapan BPPP Ambon.

After Hauling

 

Selepas terdengar azan subuh di daratan Desa Ureng yang jaraknya sangat dekat dengan fishing ground, berlangsung setting yang kedua. dan hasilnya alhamdulillah sangat melimpah. 23 basket (baskom). total tangkapan dari dua kali setting adalah 30 baskom. Harga ikan pada saat operasi ini berlangsung sedang mahal. Diperkirakan satu baskom dibeli oleh pengumpul sekitar Rp. 400.000,-

Hasil Tangkapan

Para nelayan dan semua awak KM. Martha Alfons sangat senang dengan hasil yang melimpah tersebut. Kejadian ini sempat di abadikan melalui kamera oleh Agussalim (WI BPPP Abon) yang pada kesempatan itu turut serta dalam kegiatan praktek lapangan. Malah dia berpikir bahwa dia membawa keberuntungan, karena operasi penangkapan hari sebelumnya dia tidak ikut dan hasilnya hanya 5 baskom, dan operasi penangkapannya diwarnai hujan dan arus yang cukup kuat.

Rencana Tata Ruang Pesisir se Provinsi Maluku, dan Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan

Hotel Amaris, 31 Mei 2013.

2013-05-31 14.23.58

Lokakarya rencana tata ruang pesisir kabupaten/kota se Provinsi Maluku ini dihadiri oleh kepala Bappeda Maluku, perwakilan Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kepala  Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku, Akademisi Universitas Pattimura, perwakilan CTC dan WWF, TWP Banda, dan BPPP Ambon.

Lokakarya ini ditujukan untuk membahas rencana pembentukan jejaring kawasan konservasi perairan atau KKP di wilayah Laut Banda atau Inner Banda Arc MPA Network. Menurut Kepala Bappeda Maluku Antonius Silaloho, Maluku terdiri atas 92,6% laut dan hanya 7,4% daratan, potensi SDI (sumber daya ikan) Maluku sebesar 1,6 juta ton/tahun baru dikelola  40%, dibutuhkan  bantuan KKP pusat untuk mewujudkan program Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional. Menurut Arif, perwakilat Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KP3K, kegiatan ini perlu diapresiasi, CTC dan WWF Indonesia berhasil membangun konektivitas antara kawasan konservasi perairan (KKP) dengan Pemda Maluku. Dia juga memberi motivasi kepada pihak Pemda untuk membentuk KKP di daerahnya masing0masing segera setelah rencana zonasi terbentuk.

2013-05-31 15.47.46Pada kesempatan yang sama Akademisi Unpatti Ambon, James Abrahamzs, menyampaikan materi EAFM. dalam materi tersebut disampaikan pentingnya pengelolaan perikanan melalui pendekatan ekosistem. Johny Rohi dari Tim P4KKP Laut Sawu NTT juga memberikan sharing bagaimana KKP Laut Sawu berhasil berdiri dan tercatat selaku KKP pertama di Indonesia.

Hanya saja masih terdapat beberapa kendala dalam pembentukan KKP di daerah di antaranya belum adanya renstra pesisir di beberapa kabupaten, belum adanya rencana tata ruang wilayah, belum adanya rencana zonasi wilayah pesisir, yang kesemuanya menjadi syarat terbentuknya KKP. Menurut Yan, wakil WWF Indonesia, diperlukan jejaring kawasan karena populasi yang ada dalam satu kawasan berpeluang untuk beruaya atau bergerak ke wilayah lain yang jika bukan merupakan kawasan konservasi akan mengurangi tingkat keberhasilan konservasi di wilayah KKP yang sudah ada.

2013-05-31 15.48.58

Menurut Agussalim, Widyaiswara KKP, dibutuhkan komitmen pimpinan daerah untuk terbentuknya kawasan konservasi perairan di daerahnya dan selanjutnya bisa membentuk jejaring KKP. Dan hal itu harus dimulai dengan menyamakan pola pikir tentang apa itu kawasan konservasi.  selain sharing pengelolaan (manajemen plan) juga diperlukan sharing business plan dari KKP, karena kendala utama pola pikir kita adalah sejauh mana untung ruginya jika KKP ini dibentuk.

Pada akhir acara dibentuk Tim Formatur yang akan bekerja membentuk Tim Jejaring Kawasan Konservasi Perairan se Provinsi Maluku. Formatur ini terdiri atas 5 orang perwakilan yaitu Robert dari Dinas KP Provinsi Maluku, Heidie Nikjuluw dari Dinas KP Kota Ambon, James Abrahamz dari Unpati Ambon, Bas dari WWF Indonesia dan Muhammad Korebima dari CTC. Diharapkan Tim Formatur ini akan bekerja dengan cepat membentuk Tim Jejaring KKP agar kawasan konservasi perairan di wilayah perairan Maluku segera terbentuk. Semoga…

Agussalim

Pelatihan Perancangan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) oleh CTC dan WWF di BPPP Ambon

Penutupan Pelatihan

Coral Triangle Centre (CTC) dan WWF bersama BPPP Ambon melaksanakan kegiatan Pelatihan Perancangan Kawasan Konservasi Perairan di kampus BPPP Ambon selama empat hari terhitung dari tanggal 21 sampai 24 Mei 2013. kegiatan ini dilanjutkan dengan workshop sehari pada tanggal 25 Mei di hotel Amaris Ambon.

Pelatihan ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari para PNS yang berasal dari Bappeda dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku. Juga terdapat beberapa peserta yang berasal dari pejabat fungsional BPPP Ambon yaitu Agussalim, Polly Christian dan Frans Louhenapessy.

Praktek GIS

Pendampingan saat PraktekPada pelatihan ini peserta dilatih membuat rencana tata ruang pesisir dan kawasan konservasi perairan (KKP) untuk daerah kabupaten/kota maupun provinsi di Maluku. Untuk tujuan itu, peserta dilatih mengaplikasikan program SIG dan Arc View serta aplikasi program Marxan. Hasilnya adalah peserta sangat puas dan senang karena aplikasi program tersebut masih asing bagi peserta dan sangat tepat untuk diterapkan pada perencanaan pembangunan kawasan di daerah.

Muhammad Korebima melatih

Para pelatih yang berasal dari CTC adalah Muhammad G Korebima yang sekaligus panitia yang mengurus kegiatan ini dari awal sampai akhir. Pelatih lainnya dari CTC adalah Marten Welly, Nyoman Suardana, dan Andreas Muljadi. Selain itu terdapat pelatih dari WWF Indonesia yaitu Muhammad Yusuf, Yan, dan Bas.