Selamat Datang di Website Pribadi Agussalim – Widyaiswara Kementerian Kelautan & Perikanan RI – Mobile Contact: 085242074257

Category: Perikanan

Keterampilan Pengambilan Data Biofisik Bawah Air dan Manfaatnya untuk Pengelolaan Wilayah Perairan

Oleh: Agussalim

PENDAHULUAN

 a. Latar Belakang

Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki beribu pulau yang terbentang dari ujung barat di Pulau Weh, Sabang, sampai ke ujung timur di Merauke. Hal itu berarti bahwa Indonesia didominasi oleh perairan, dimana sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh air. Jika dilihat sebagai potensi, maka bisa disimpulkan bahwa potensi terbesar Indonesia terletak pada perairannya. Namun, pengelolaan potensi selama ini lebih banyak difokuskan pada pengelolaan wilayah daratan dan masih sangat banyak potensi perairan yang belum dikelola dengan baik bahkan belum diidentifikasi dan dikenali dengan baik.

Kekurangan identifikasi terhadap potensi perairan terutama disebabkan oleh masih minimnya pengetahuan dan keterampilan untuk mengidentifikasi kekayaan potensi bawah air serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk operasional pemantauan. Selain itu faktor teknologi juga sangat memegang peranan penting. Teknologi tepat guna untuk bawah air di Indonesia harus diakui memang masih sangat minim, sehingga hasil-hasil riset dan pengelolaan sumberdaya pun masih terbatas.

Langkah yang harus segera dilakukan adalah meningkatkan skill dan pengetahuan masyarakat terutama kepada praktisi yang senantiasa berhubungan dengan perairan. Skill yang pertama dan utama adalah keterampilan mengambil data di dalam perairan. Selanjutnya menyiapkan teknologi yang tepat untuk mengeksplorasi potensi bawah air berdasarkan data yang telah ada. Eksplorasi potensi yang berbasis data bawah air tidak terbatas pada pengambilan sumberdaya untuk diolah dan dipasarkan tetapi juga bisa berarti upaya pemanfaatan untuk tujuan lain yang akan dinikmati oleh masyarakat baik lokal maupun internasional. Selain untuk eksplorasi, data bawah air juga bisa menjadi rujukan untuk penerbitan peraturan perlindungan terhadap spesies tertentu yang terancam mengalamin kelangkaan atau kepunahan, juga menjadi rujukan untuk penetapan suatu kawasan menjadi kawasan lindung, kawasan konservasi atau taman laut dan sejenisnya.

SDM yang memiliki skill pengambilan data bawah air masih sangat minim jumlahnya di nusantara, jika dibandingkan dengan luasnya wilayah perairan di tanah air. Hal ini disebabkan karena jarangnya dilaksanakan pelatihan semacam itu. Masyarakat harus dimotivasi dan difasilitasi untuk mendapatkan skill semacam ini. Dengan demikian nantinya akan tersedia semakin banyak data tentang potensi bawah air yang kita miliki sehingga perencanaan pembangunan nasional bisa menyentuh kepada aspek detail yang terdapat di dalam perairan.

 

b. Tujuan

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya skill dan pengetahuan tentang cara pengambilan data bawah air. Informasi yang dihasilkan dari pemantauan biofisik bawah air akan menjadi referensi pengambilan keputusan bagi pemerintah, pengelola kawasan konservasi perairan, penelitian ilmiah, dan menjadi bahan sharing data internasional untuk kebijakan pengelolaan global.

 

II. PENTINGNYA PEMANTAUAN DATA BIOFISIK BAWAH AIR

 

Posisi penting Indonesia sebagai pusat berbagai eksosistem bawah air menjadi salah satu alasan pentingnya memiliki data biofisik bawah air yang diperoleh melalui program pemantauan. Apalagi mengingat bahwa saat ini ada kebutuhan untuk sharing data pada tingkat internasional. Data biofisik bawah air sangat penting untuk membantu pengambilan keputusan seputar pengelolaan kawasan yang berhubungan lingkungan perairan. Untuk memperoleh data tersebut diperlukan keahlian dalam melakukan pemantauan dan pengambilan data. Oleh karenanya dibutuhkan tenga-tenaga lapangan yang terlatih.

Banyak daerah perairan penting di tanah air yang membutuhkan pemantauan terhadap kondisi bawah airnya, terutama di wilayah-wilayah yang didominasi oleh perairan. Sebagian kota di tanah air juga berada di pesisir dan bahkan banyak terjadi reklamasi untuk perluasan kota. Bahkan di beberapa kota, seperti misalnya Kota Ambon, aktivitas di sekitar perairannya begitu padat mulai dari pertanian di pesisir, industry, pelayaran, penangkapan ikan, budidaya, maupun kegiatan rekreasi. Di beberapa titik di Teluk Ambon juga terdapat spot penyelaman. Bila dilakukan pemantauan biofisik bawah air maka akan sangat banyak informasi yang diperoleh yang sangat berguna untuk menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan daerah.

 

a. Pentingnya Pemantauan

Terdapat tiga aspek utama yang harus terpenuhi dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil atau KKP3K yang efektif. Tiga aspek tersebut yakni aspek tata kelola, aspek sosial ekonomi dan budaya, serta aspek biofisik. Tata kelola di antaranya meliputi peningkatan SDM, kelembagaan dan administrasi, aturan, infrastruktur, kemitraan, jejaring dan pendanaan, serta monitoring dan evaluasi. Aspek sosial ekonomi dan budaya meliputi pengembangan sosial ekonomi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, pelestarian adat dan budaya serta monitoring dan evaluasi. Sedangkan aspek biofisik meliputi perlindungan serta rehabilitasi habitat dan populasi ikan, pemanfaatan sumberdaya ikan, penilitian dan pengembangan, pariwisata alam dan jasa lingkungan, pengawasan dan pengendalian serta monitoring dan evaluasi. Hal di atas tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.30 Tahun 2010.

Untuk memenuhi aspek biofisik tersebut maka dibutuhkan data tentang kondisi biofisik pada kawasan-kawasan yang dikelola. Data biofisik awal akan menjadi data dasar atau T0 yang akan menjadi patokan penilaian data berikutnya. Data biofisik yang diperoleh dari pemantauan juga akan menjadi bahan untuk building blocks (bangunan balok)  dan menjadi indikator tahapan building blocks sebuah kawasan perairan yang dikelola. Pada tahap inisiasi sampai pengelolaan sumberdaya secara minimum KKP, yang ditandai dengan warna merah kuning dan hijau pada building blocks, bisa saja kawasan tersebut belum memiliki data biofisik (T0) sama sekali. Sedangkan pada tahapan pengelolaan secara optimum yang ditandai dengan blok berwarna biru, kawasan sudah harus memiliki data habitat, fisika kimia dan populasi biota target. Hal ini berarti data biofisik menjadi salah satu ukuran utama perkembangan pengelolaan kawasan dan menjadi kriteria untuk monitoring dan evaluasi pengelolaan.

Pertanyaannya kemudian, adakah dasar hukum yang mewajibkan perlunya dilakukan pemantauan? Jawabannya ada, yakni Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa (Pasal 8-11), PP No.28 Tahun 2011 tentang pengelolaan kawasan pelestarian alam dan kawasan suaka alam (Pasal 26), PP No.60 tahun 2007 tentang Konservasi sumberdaya ikan, Permen KP No.2 tahun 1999 tentang Tata cara penetapan, dan Permen KP No.30 tahun 2010 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan.

Lalu aturan apa yang menjadi acuan kegiatan pemantauan yang dilakukan? Jawabnya ada, yakni Kepmen Lingkungan Hidup (LH) No.04 tahun 2001 tentang kriteria baku kerusakan terumbu karang, Kepmen LH No.115 tahun 2003 Pedoman Penentuan Status Mutu Air, Kepmen LH No.51 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut, Kepmen LH No. 200 tahun 2004 tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun.

Dalam Kepmen LH No. 04 tahun 2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang diuraikan tentang persentase baku untuk menilai kondisi kerusakan terumbu karang. Kriteria rusak buruk jika persentase tutupan karang 0-24,9%, rusak sedang jika tutupan karang berkisar antara 25-49,9%. Kondisi karang baik jika tutupan karang 50-74,9% dan baik sekali ketika tutupan karang 75-100%. (www.menlh.go.id)

Sedangkan baku mutu mangrove menurut Kepmen LH No.201 Tahun 2004 tentang Kriteria baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove adalah kriteria Baik sangat padat jika persentase penutupan adalah lebih besar atau sama dengan 75% dengan kerapatan lebih dari atau sama dengan 1.500 pohon/ha. Kriteria baik sedang jika persentase penutupan mangrove lebih dari 50% sampai di bawah 75% dengan kerapatan antara 1000 sampai 1.500 pohon/ha. Sedangkan jika tutupan persentase mangrove kurang dari 50% atau kerapatan kurang dari 1000 pohon/ha maka kondisinya termasuk jarang atau rusak. (www.menlh.go.id)

Kepmen Lingkungan Hidup No.200 tahun 2004, menjelaskan tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun. Kriteria baik kaya/sehat jika persentase penutupan lamun lebih besar sama dengan 60%. Kriteria kurang kaya/kurang sehatng jika persentase penutupan lamun antara 30% sampai 59.9%. Sedangkan jika tutupan persentase lamun kurang dari 29.9%, maka kondisinya termasuk rusak miskin. Sedangkan kriteria baku kerusakan padang lamun menurut Kepmen LH No.200 jika luas area kerusakan lebih kecil dari 29.9% termasuk kategori kerusakan rendah, kerusakan dengan luas area antara 30% sampai 49.9% masuk kategori kerusakan sedang dan kerusakan sebesar 50% ke atas termasuk kategori tingkat kerusakan tinggi. (www.menlh.go.id)

 

b. Pentingnya Data Biofisik Bawah Air

Data biofisik bawah air meliputi dua hal utama yakni data bio (hidup) yang meliputi seluruh organisme hidup di bawah air dan data fisika kima air yang meliputi salinitas, visibility, pH air, suhu, sedimen, dan arus. Dalam kerajaan (kingdom) hewan/Animalia banyak fhylum yang terapat di bawah air. Menurut Wikipedia, Hewan atau animal yang kita kenal selama ini merupakan kelompok hewan bersel banyak (Metazoa)dapat dibagi manjadi beberapa kelompok filum/phylum yaitu Protozoa, Porifera, Coelenterata, Vermes, Mollusca, Arthropoda, Echinodermata dan Chordata.

Protozoa adalah kelompok hewan bersel satu. Porifera adalah jenis hewan berpori yang habitat umunya di air laut atau tawar. Coelenterata adalah kelompok hewan berongga, dalam daur hidupnya dapat hidup sebagai polip atau medusa. Coelenterata terdiri atas dua filum, yaitu Ctenophora dan Cnidaria. Vermes adalah anggota kelompok dari cacing. Yang termasuk dalam filum ini antara lain Platyhelminthes atau disebut juga cacing pipih, Nematoda atau disebut juga cacing gilik, dan Annelida disebut juga cacing gelang. Mollusca atau disebut juga hewan lunak memiliki mantel yang dapat membentuk cangkang. Arthropoda adalah hewan dengan ciri khusus, yaitu kaki beruas-ruas. Echinodermatdisebut juga hewan berkulit duri. Tubuhnya tidak bersegmen-segmen tetapi berduri dan hidup di laut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Filum_hewan)

Begitu banyak fauna yang terdapat di dalam air yang tidak akan pernah kita ketahui komposisi dan perubahannya dengan seksama tanpa adanya data yang diperoleh melalui aktivitas pemantauan bawah air. Perubahan kondisi ekosistem di dalam air tidak bisa dilepaskan dari pengaruh aktivitas atau keadaan yang ada di sekitarnya termasuk pada permukaan air. Banyaknya limpasan limbah yang terbawa bersama air sungai yang mengalir ke laut akan berpengaruh terhadap visibility, pH dan salinitas air laut. Pengaruh terhadap faktor fisik air tersebut selanjutnya akan berpengaruh terhadap kehidupan biota-biota perairan. Demikian pula pengaruh limbah pupuk pertanian yang mengalir sampai di perairan akan menyebabkan pengaruh terhadap biota laut tertentu yang secara langsung mempengaruhi rantai makanan dalam perairan.

Biofisik bawah air memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga untuk mengetahui laju perubahan dan penyebab perubahan ekosistem dibutuhkan data biofisik dari seluruh komponen yang saling terkait tersebut. Dari data itu pula dapat dirumuskan cara mengatasi atau mencegah sebuah perubahan lingkungan sehingga daya dukung dan keseimbangan lingkungan dapat dipertahankan. Untuk mengukur perubahan maka dibutuhkan data awal atau T0 saat pertama kali pengambilan data dan menjadi acuan seberapa besar perubahan pada saat pengambilan data berikutnya.

Prinsip yang perlu dipegang dalam pengambilan data bawah air adalah pengambilan data awal dan data monitoring harus dilakukan pada posisi yang sama. Penentuan posisi dilakukan dengan menggunakan Global Positioning System atau GPS. Jarak deviasi yang masih dalam batas toleransi maksimal 5 meter. Person yang melakukan pemantauan bisa berbeda, yang terpenting posisi dan metode pemantauan sama. Dengan demikian perubahan bisa terlihat dengan jelas karena objek yang diamati sama.

 


III. KETERAMPILAN PENGAMBILAN DATA BIOFISIK BAWAH AIR

Pengambilan data biofisik bawah air sepintas terlihat sederhana dan mudah. Memang tidak terlalu sulit, tetapi paling tidak pengambil data bawah air membutuhkan empat keterampilan utama yakni keterampilan menyelam (keterampilan snorkeling tidak cukup untuk mengambil data dg akurat apalagi untuk kedalaman tertentu), keterampilan mengidentifikasi biota perairan (memahami takzonomi hewan laut), keterampilan mengukur aspek fisik air laut dan keterampilan mengestimasi ukuran ikan. Keempat keterampilan tersebut menjadi syarat keberhasilan pengambilan data bawah air bisa dilakukan dengan akurat.

  1. Keterampilan menyelam

Menyelam adalah aktivitas bawah air dengan menggunakan alat selam berupa masker, baju renang, sepatu selam dan fin (kaki katak), tabung udara, rompi BC (bouyancy compensator) yang berfungsi sebagai pelampung serta penggunaan pemberPeralatan selam dan bagian tubuhat, dan alat-alat lainnya (lihat gambar di bawah). Keterampilan menyelam termasuk di dalamnya keterampilan berenang atau bergerak di dalam badan air. Keterampilan menyelam juga meliputi keterampilan menggunakan alat-alat selam seperti menggunakan bernafas dalam air, penggunaan masker, penyesuaian terhadap kedalaman, membaca penunjuk kedalaman dan stok tabung serta kompas, dan penggunaan rompi pelampung atau BC (Bouyancy Compensator), penggunaan fins, serta penggunaan safety sausage (penanda untuk naik ke permukaan). Keterampilan menyelam juga meliputi keterampilan mengatasi masalah dalam penyelaman misalnya ada masalah dengan peralatan dan sebagainya. Keterampilan membaca isyarat dalam air juga sangat penting, sebagai alat komunikasi sesama penyelam. Dan hal prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah jangan pernah menyelam sendirian (never dive alone). Selain itu masih ada keterampilan lainnya yang harus dikuasai seorang penyelam agar bisa menyelam dengan selamat dan bisa mengambil data bawah air dengan baik dan benar.

2. Keterampilan mengidentifikasi biota perairan

Keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang pemantau data biofisik bawah air adalah kemampuan mengidentifikasi biota perairan. Kemampuan mengidentifikasi biota perairan dilandaskan pada pengetahuan tentang takzonomi hewan perairan seperti jenis-jenis ikan, jenis-jenis karang, jenis-jenis avertebrata perairan dan sebagainya. Biota-biota perairan tersebut sangat banyak ragam dan jenisnya sehingga pengetahuan tentang takzonomi sampai pada kelas genus dan spesies akan sangat membantu identifikasi dengan benar dan akurat. Untuk sampai pada keterampilan membaca secara akurat sampai ke tingkatan spesies dibutuhkan waktu dan tingkat keseringan melakukan pemantauan. Tetapi paling tidak seorang calon pemantau harus mengetahui family dan genus hewan-hewan perairan, termasuk jenis substrat perairan.

3. Keterampilan mengukur aspek fisika kimia air laut

Mengukur aspek fisika kima air laut adalah hal yang mudah dipelajari dan dilakukan. Cukup melihat dan mempraktekkan sekali dengan panduan orang lain maka selanjutnya seseorang bisa melakukannya sendiri. Tetapi meskipun demikian, kemampuan melakukan pengukuran itu tetap sebuah keterampilan yang harus dimiliki pemantau mengingat yang diukur beberapa variable dan menggunakan alat yang berbeda.

Pengukuran terhadap salinitas dengan menggunakan alat yang disebut refraktometer. Caranya dengan mengambil sampel air laut di lokasi pemantauan lalu diteteskan pada layar refraktometer, kemudian angka akan terlihat. Sebelum digunakan sebaiknya refraktometer dikalibrasi dengan menggunakan air tawar agar angka standarnya nol dan tidak mempengaruhi angka salinitas air sampel yang diukur.

Pengukuran terhadap kecerahan atasu visibility menggunakan alat yang disebut pinggan sechi atau sechidisc. Sechidisc berdiameter minimal 30 cm dengan empat bagian yang bergantian hitam dan putih. Cara pengukuran dengan menurunkan sechi secara perlahan, lalu mencatat dimana perbatasan hitam dan putih sudah tidak terlihat, kemudian sechi diturunkan lagi beberapa meter lalu ditarik perlahan ke permukaan, setelah perbatasan hitam dan putih sudah terlihat catat kembali kedalamannya, lalu dua catatan kedalaman dirata-ratakan, dan itulah nilai kecerahannya.

Pengukuran suhu adalah hal yang mudah, tetapi untuk pengukuran suhu di lokasi pemantauan dilakukan dengan cara mengambil air dari lokasi transek dan di bawa ke permukaan untuk diukur suhunya dengan menggunakan termometer. Lalu mencatat suhu dan kedalaman pengambilan air. Pengukuran pH atau kadar basa air laut dilakukan dengan menggunakan kertas pH (kertas lakmus) skala 7 sampai 14.

4. Keterampilan mengestimasi ukuran ikan

Mengestimasi atau memperkirakan ukuran panjang ikan merupakan keterampilan tersendiri yang dibutuhkan untuk pemantauan. Simulasi dan latihan mengestimasi dapat dilakukan dengan menggunakan layar infocus, atau latihan mengestimasi dengan menggunakan alat bantu gambar/boneka ikan yang diletakkan sekitar beberapa meter dari pemantau sebanyak 40 buah dengan ukuran variatif. Kriteria sesorang bisa mengestimasi dengan baik jika mampu melakukan estimasi dengan tingkat kebenaran 30 dari 40 sampel, dan trend kemampuan mengestimasi menunjukkan angka yang meningkat.

Keterampilan memperkirakan ukuran ikan berhubungan dengan TKG (tingkat kematangan gonad) ikan yang diamati, usia ikan (apakah ikan tersebut termasuk masih remaja atau sudah dewasa dan sudah menjadi induk). Data ini nantinya akan berhubungan dengan recovery sumberdaya ikan, atau potensi pulihnya kepadatan populasi ikan berdasarkan jumlah indukan yang terdapat di lokasi transek.

 

 

IV. OUT PUT DATA PEMANTAUAN SEBAGAI REFERENSI PENGELOLAAN KAWASAN BERBASIS EKOSISTEM

 

Data hasil pemantauan sebagai output dari pemantauan biofisik baah air akan menjadi bahan yang bisa diolah menjadi informasi yang mendukung untuk pengelolaan kawasan. Informasi ini akan sangat berguna bagi setiap stakeholder terkait dengan setiap program yang akan mereka laksanakan yang ada kaitannya dengan kehidupan di seluruh ekosistem yang terdapat di perairan.

Out put data hasil pemantauan bukan hanya berguna bagi stake holder setempat tetapi juga sangat bermanfaat untuk menjadi data pada tingkat regional dan nasional. Selanjutnya untuk tujuan kemajuan nasional, data tersebut bisa disheringkan ke internasional untuk menjadi kajian bersama dan menjadi basis data untuk program global termasuk di antaranya program mengantisipasi dampak perubahan iklim atau program pengembangan biota tertentu.

a. Perlunya memahami keterkaitan antara komponen dalam ekosistem

Bagian penting dari seluruh data tentang sumberdaya adalah pemahaman bahwa ada hubungan saling ketergantungan antara satu komponen dengan komponen lain dalam ekosistem. Dalam ekosistem terdapat rantai makanan dimana satau mata rantai dengan mata rantai yang lain berhubungan satu sama lain dalam keseimbangan. Sehingga pemutusan salah satu rantai makanan tersebut akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Terganggunya ekosistem akan memaksa spesies yang ada di dalamnya melakukan adaptasi baru untuk membentuk keseimbangan baru. Organisme yang gagal beradaptasi akan mengalami penyusutan sumberdaya baik dalam postur atau dalam jumlah. Organisme yang beradaptasi akan mengalami perubahan sejauh perubahan yang terjadi dalam ekosistem yang menjadi habitatnya.

Memahami tentang ekosistem akan membantu pengkajian data hasil pemantauan bisa diinterpretasi dengan baik dan benar. Kehilangan satu jenis organisme di sebuah ekosistem dalam waktu tertentu akan berpengaruh langsung kepada pemangsa jenis organisme tersebut juga terhadap organisme yang menjadi target pemangsaan dari organisme yang hilang itu. Sebagai contoh, ketika hewan pemakan acantahaster (bintang laut berduri banyak) hilang maka jumlah acantaster melimpah, ketika acanthaster melimpah maka karang akan terancam rusak karena acanthaster adalah hewan pemakan karang. Pemahaman tentang hal ini akan membantu analisis data pemantauan menjelaskan segala jenis kondisi yang teramati di dalam perairan.

Keterkaitan dalam ekosistem juga membantu pemantau menentukan spesies target apa yang perlu dia prioritaskan dalam pengamatan karena akan menentukan kondisi perairan tempat pengamatan. Misalnya keberadaan ikan kakatua mengindikasikan bahwa recovery karang akan berlangsung normal bahkan cepat karena kakatua memakan alga yang menutupi karang. Ketiadaan spesies tertentu yang seharusnya ada bisa menjadi indikasi adanya perubahan ekosistem pada area tersebut.

b. Perlu memahami makna biota indikator, dilindungi dan bernilai ekonomi

Eksositem perairan selalu berisi beraneka ragam biota yang diantaranya ada yang bertindak sebagai peringatan awal terjadinya perubahan (contohnya kerusakan) pada jenis organisme atau pada ekosistem atau disebut biota indicator. Selain itu juga terdapat biota yang dilindungi karena beberapa alasan, dan sudah ada aturan hukumnya tentang perlindungan itu. Dalam ekosistem perairan juga terdapat organisme yang bernilai ekonomi karena memberi manfaat kepada manusia dari aspek ekonomi.

Biota indikator perlu diidentifikasi disebabkan karena biota tersebut menjadi penanda ada atau tidakAcanthasternya perubahan yang terjadi dalam ekosistem. Menurut CTC (Coral Triangle Center) dalam Anonim (2014) yang termasuk biota indicator perairan di bagi atas invertebrate dan ikan. Indicator invertebrata yakni trumpet triton, bulu babi, landak laut, acanthaster planci, lobster, teripang, udang coral, pencil urchin, dan giant clam (kima). Indicator fish atau ikan indicator yakni ikan kakatua, napoleon, ikan kupu-kupu, morey (sidat), grouper (kerapu), snapper, sweetlip, dan barramundi.

Ada jenis biota yang termasuk biota ekonomi karena memberi manfaat kepada manusia dari aspek ekonomis. Banyak sekali biota yang bernilai ekonomis baik itu berbagai jenis ikan seperti berbagai jenis ikan pelagis dan juga berbagai jenis ikan dasar dan ikan karang, bahkan termasuk ikan hias yang tujuannya sekedar menjadi hiasan akuarium juga tetap bernilai ekonomis bagi masyarakat. Selain ikan, udang juga bernilai ekonomis, demikian pula teripang dan berbagai jenis kerang, bahkan bulu babi juga dikonsumsi oleh sebagian masyarakat pesisir. Tetapi pemantau juga harus mampu membedakan antara biota yang bernilai ekonomi dengan biota yang dilindungi.

Biota perairan ada yang dilindungi karena memiliki beberapa alasan di antaranya populasinya kecil, jumlah individu menurun tajam, penyebaran organisme tersebut terbatas, atau karena kemampuan reproduksinya terbatas. Perlindungan terhadap biota tertentu bermakna bahwa organisme tersebut diberi status hokum dilindungi agar terhindar dari ancaman kepunahan. Status perlindungan bisa dilindungi penuh atau dilindung terbatas (berdasarkan waktu atau lokasi).

Pemahaman tentang adanya biota-biota tersebut perlu dimaknai dengan baik oleh pemantau atau pengambil data biofisik bawah air. Dengan memahami makna biota-biota tersebut maka pemantau bisa lebih cermat mengidentifikasi spesies. Karena tidak semua jenis hewan di perairan menjadi hewan indikator, dan sebagian biota yang bernilai ekonomis menurut masyarakat ternyata termsuk dalam biota yang tidak boleh ditangkap karena dilindungi secara hokum.

c. Data pemantauan sebagai referensi pengelolaan berbasis ekosistem

Data hasil pemantauan bawah air bisa menjadi referensi pegelolaan perikanan berbasis ekosistem, karena pemantau sudah dibekali dengan pemahaman akan adanya biota indikator, biota ekonomis dan biota dilindungi. Keberadaan atau ketiadaan biota indicator menunjukkan kondisi yang sedang dialami oleh suatu ekosistem. Demikian pula halnya kepadatan populasi biota bernilai ekonomis atau biota yang dilindungi mengindikasikan tingkat kesuburan ekosistem. Data juga akan mengindikasikan kelangkaan atau kepunahan spesies tertentu.

Data hasil pemantauan biota-biota perairan itu lalu dihubungkan dengan berbagai aktivitas yang terdapat di sekitar perairan yang berpengaruh langsung terhadap ekosistem, baik aktivitas di dalam perairan maupun di atas dan di sekitar perairan. Kesimpulan pembacaan data tersebut akan mengantar pada teridentifikasinya faktor yang bermasalah dalam sebuah eksosistem. Dari simpulan itu bisa direkomendasikan langkah pengelolaan yang tepat sesuai dengan kondisi yang terdata. Sehingga dengan data tersebut bisa menjadi rujukan pemerintah untuk menetapkan suatu spesies masuk kategori dilindungi atau tidak dan suatu wilayah perairan menjadi kawasan lindung, taman laut dan sebagainya.

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan

Wilayah perairan kita yang begitu luas membutuhkan pemantauan untuk mendata biota-biota yang terdapat di dalam perairan. Hal ini merupakan amanat pengelolaan yang sudah mendapat bingkai hukum berupa peraturan menteri Lingkungan Hidup dan juga Menteri Kelautan dan Perikanan. Untuk bisa melakukan pendataan bawah air dibutuhkan keterampilan mengambil data yang didalamnya inklud keterampilan menyelam, kemampuan mengidentifikasi jenis biota perairan, keterampilan melakukan pengukuran aspek fisika kimia air, serta keterampilan mengestimasi ukuran ikan.

Kemampuan melakukan pemantauan atau pengambilan data bawah air juga didasarkan pada kemampuan mengidentifikasi berbagai jenis biota di perairan terutama biota-biota yang termasuk biota indicator, biota yang dilndungi dan biota bernilai ekonomis bagi masyarakat. Pengetahuan tersebut akan membantu dalam mengiterpretasi data hasil pemantauan.

Out put berupa data bawah air yang diolah menjadi informasi tentang kondisi perairan yang telah dipantau akan sangat membantu dalam merumuskan program-program pengelolaan yang akan dilakukan di daerah tersebut. Informasi biofisik tersebut juga akan menjadi referensi setiap stake holder yang membutuhkannya. Informasi tersebut bahkan menjadi bahan untuk shering data dan informasi internasional sehingga membantu dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pengelolaan global.

 

b. Saran

Mengingat pentingnya ketersediaan data biofisik perairan maka sebaiknya aktivitas pemantauan atau pengambilan data bawah air banyak dilakukan terutama di wilayah-wilayah yang potensial dihuni oleh biota-biota dilindungi. Pendataan harus sedini mungkin dilakukan mengingat pentingnya melindungi berbagai spesies penting dari kelangkaan atau kepunahan dan sekaligus melindungi ekosistem agar tetap dalam kesimbangannya.

Mempertimbangkan besarnya biaya yang dibutukan untuk kegiatan pemantauan dan pengambilan data bofisik bawah air, maka sebaiknya lembaga yang berkepentingan dapat melakukan koordinasi dan kerjasama pemantauan agar lebih efektif dan efisien. Di samping itu diperlukan training untuk membekali calon pemantau agar memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam melakukan pemantauan biofisik bawah air. Untuk wilayah perairan Indnesia yang begitu luas maka dibutuhkan banyak SDM handal untuk pemantauan biofisik bawah air.

Ambon, 18 Nopember 2014

 

 

 

 

 

Referensi

Anonim, 2014. Presentase Coral Triangle Center. Ujicoba Pelatihan Pengambilan Data Biofisik Bawah Air di Karimunjawa, Oktober 2014.

http://id.wikipedia.org/wiki/Filum_hewan. Diakses pada 16 Nopember 2014

paradiseunpad.blogspot.com. Peralatan Selam. Diakses pada 17 Nopember 2014

www.menlh.go.id. Kepmen Lingkungan Hidup No. 04 tahun 2001tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang

www.menlh.go.id. Kepmen Lingkungan Hidup No.200 tahun 2004, tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun.

www.menlh.go.id. Kepmen Lingkungan Hidup No.201 Tahun 2004 tentang Kriteria baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.

www.scubadivingsurabaya.com. Teknik Scuba. Diakses pada 17 Nopember 2014.

 

Pengambilan Data Bawah Laut di Karimunjawa

Karimunjawa merupakan pulau eksotis di perairan Jawa yang terletak di antara Pulau Jawa dan Kalimantan. Kepulauan Karimunjawa terdiri atas 27 pulau dengan 5 pulau yang berpenghuni. Sebagai wilayah kepulauan, Karimunjawa memiliki keindahan bawah laut yang sangat menawan. Perjalanan ke Karimunjawa bisa ditempuh dengan menggunakan kapal fery (ASDP) atau kapal penumpang tradisional atau dengan pesawat udara. PerjalanaKarimunjawa Google earth.jpgn dengan kapal fery adalah yang paling banyak digunakan masyarakat, yang naik dari Pelabuhan Fery Jepara, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam perjalanan.

Karimunjawa yang konon asPesisir Karimunjawaal katanya adalah kremun-kremun atau samar-samar, merupakan sekumpulan pulau yang memang kelihatan samar dari perairan. Sesampai di pelabuhan Karimunjawa, mata kita kita akan disambut dengan pemandangan asri paduan hijaunya gunung dengan birunya laut serta kapal-kapal yang ramai bertambat. Bagi sebagian besar orang di Jawa Tengah, Karimunjawa merupakan daerah wisata sehingga orang yang berkunjung kesana cenderung dianggap punya keperluan utama untuk wisata atau piknik. Karimunjawa juga masih kental dengan tadisi dan budaya Islam peninggalan Sunan Muria. Hal itu terlihat pada kegiatan saat pernikahan, aksesoris Islami seperti tasbih, tongkat dari kayu Dewandaru (endemik Karimunjawa), suara azan dari mesjid-mesjid yang bersahut-sahutan saat waktu sholat, serta cerita-cerita rakyat yang ada pada masyarakat Karimunjawa.

Alun-alun Karimunjawa malam hariTerdapat pula alun-alun (lapangan) yang menjadi sentral kegiatan masyarakat Karimunjawa. Siang dan sore hari alun-alun tersebut menjadi tempat berolahraga, sore hari para penjual hasil laut seperti berbagai jenis ikan, cumi, udang, lobster, kepiting dan sebagainya mulai berjejeran di sepanjang pinggir alun-alun. Demikian halnya dengan penjual  pakaian dan aksesori ciri khas Karimunjawa yang mulai buka sejak jam empat sore hari. Para pengunjung Karimunjawa mulai ramai berdatangan ke alun-alun sejak sore hari, sambil berjalan-jalan memilih-milih ole-ole buat orang di rumah, mereka banyak yang memesan ikan bakar, atau es kelapa muda, bahkan ada juga kelapa bakar. Setelah pesanan mereka siap, lalu para pengunjung duduk di alun-alun menghadap meja setinggi 30 cm beralas terpal yang dihampar di atas rumput hijau alun-alun. Aktivitas itu berlangsung sampai sekitar jam 10 malam di setiap malam. Para pengunjung ramai berbaur, baik pengunjung domestik maupun mancanegara, berkumpul menikmati suasana santai dan nyaman di alun-alun Karimunjawa.

Bermain bersama ikan di Menjangan KecilHal yang paling istimewa di Karimunjawa adalah pemandangan lautnya yang sangat indah menawan. Keindahan itu terletak pada paduan gugusan pulau dengan pesisir yang berpasir putih, pohon-pohon cemara di pesisir, dan keanekaragaman karang yang sehat dengan kekayaan berbagai jenis ikan dan biota laut yang menjadi penghuninya. Jarak antar pulau-pulau yang berdekatan juga mendukung keindahan tersebut bisa dinikmati satu persatu. Karimunjawa juga terkenal dengan penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar. Keindahan Karimunjawa tidak bisa dilepas dari keindahan alam laut, sehingga mempertahankan eksistensi Karimunjawa adalah dengan mempertahankan kelangsungan hidup biota lautnya.

Para pengambil data bawah airSebuah even istimewa diselenggarakan oleh Coral Triangle Center (CTC), NGO yang mengurusi terumbu karang di Segitiga Karang Dunia, di Karimunjawa. Even tersebut adalah Uji Coba Pelatihan Pengambilan Data Biofisik Bawah Air. CTC merekrut peserta dari berbagai institusi di antaranya KP3K Pusat (Yusuf Ray), UPT KP3K di Pekanbaru (Yuwanda Ilham), Lampung (Ade), Banten (Pitro). Peserta juga ada yang berasal dari Balai Diklat Perikanan Tegal (Irwan Suneth) dan Ambon (Agussalim). Terdapat juga peserta dari universitas yakni Dosen dari Undip (Agus T) dan Udayana (Dodik). Peserta juga ada yang berasal dari pengelola Taman Nasional Karimunjawa (Endang Abdurrahman). Para pelatih adalah instruktur dari CTC yakni Andreas Muljadi dan Silvianita Timothius. Di tengah-tengah pelatihan berlangsung hadir pula Hesty Widodo yang merupakan salah seorang pejabat di jajaran CTC. Pelatihan ini juga terselenggara dengan baik berkat bantuan para mahasiswa selam dari Undip yakni Rizky, Andra, Ilham dan Yoel.

Mooring Buoy di Menjangan KecilPengambilan data biofisik bawah air dilakukan di beberapa tempat. Pengambilan data pertama di perairan Pulau Menjangan Kecil. Data yang diambil disana adalah data substrat (berbagai jenis karang), lamun dan ikan. Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman dengan menggunakan metode PIT. Khusus untuk pengambilan data lamun digunakan metode quadrat transect. Dari hasil pengambilan data diperoleh keterangan bahwa kondisi biota perairan pada Menjangan Kecil cenderung masih sehat dan kondisi itu harus dipertahankan. Menjangan Kecil merupakan salah satu spot wisata Karimunjawa yang banyak didatangi pengunjung untuk menyelam atau sekedar snorkeling. Salah satu wujud pengelolaan wisata berkelanjutan disana adalah tersedianya mooring buoy (pelampung tambat) sehingga kapal-kapal pengunjung tidak menurunkan jangkar untuk berlabuh sehingga tidak merusak karang.

Pegambilan Data Bawah AirPengambilan data kedua dilakukan di sekitar terumbu karang Gosong Cemara di dekat Pulau Cemara Kecil, Karimunjawa. Di sini kapal terpaksa berlabuh jangkar karena belum adanya mooring buoy di sekitar tempat itu. Tidak adanya mooring buoy mungkin juga disebabkan karena tempat itu bukan merupakan pulau sehingga tidak terdapat daratan, hanya beberapa bongkahan batu karang yang menonjol ke permukaan saat air surut. Namun dari banyaknya pengunjung yang datang silih berganti maka sudah harus menjadi perhatian pengelola agar menempatkan mooring buoy sedikitnya 3 buah di tempat tersebut. Pengambilan data di tempat ini difokuskan pada data ikan dengan menggunakan PIT dan long swim sejauh 400 meter. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa 3 ikan indikator yakni parrotfish atau kakatua, kulit pasir dan beronang masih banyak terdapat di Gosong Cemara. Keberadaan 3 spesies indikator utama ini menunjukkan masih sehatnya kondisi perairan. Pada data juga terlihat adanya ikan kerapu, lencam, clownfish serta cumi. Terdapat pula COT yakni acantaster blanchii yang merupakan predator bagi karang sekitar dua spesies.

Hasil pengambilan  data kemudian diolah melalui program exel agar diperoleh informasi yang bisa menjadi rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh pengelola KKP yakni pemerintah Karimunjawa. Dari hasi pengolahan data diperoleh rekomendasi berupa perlunya pendidikan konservasi bagi masyarakat Karimunjawa terutama bagi tour guide, dive operator dan semua yang terlibat dalam pengelolaan wisata Karimunjawa. Rekomendasi lainnya yakni perlunya pemasangan mooring buoy di spot-spot wisata termasuk Gosong Cemara dalam jumlah yang memadai. Rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti juga adalah menetapkan persyaratan sertifikasi selam bagi pengunjung spot terumbu karang, minimal A1.

Team Pengambilan DataUjicoba pelatihan ini merupakan untuk yang pertama kalinya dilakukan oleh CTC. Hasil Ujicoba Pelatihan ini kemudian akan disampaikan kepada Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan untuk dinilai dan selanjutnya diadopsi agar diterapkan pada balai-balai diklat lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal ini juga berarti bahwa ini merupakan kali pertama pendataan tentang kondisi daya dukung lingkungan yang dimiliki oleh Gosong Cemara dan bisa menjadi data dasar atau T0 untuk pengelolaan Gosong Cemara, dan menjadi acuan penilaian untuk monitoring dan evaluasi tentang kondisi Gosong Cemara. Dan mereka yang melakukan pengambilan data ini adalah Tim pertama yang melakukan pengambilan data bawah air di Karimunjawa. Harapan CTC dan para peserta, data ini bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan Karimunjawa, dan kegiatan ini menjadi role model pengambilan data bawah air di seluruh tanah air. Semoga.

Kontributor: Agussalim (Salah satu anggota Tim dalam kegiatan ini)

 

 

 

Bersama Suku Bajo-Wakatobi, Berlatih Menangani Ikan Kerapu Sunu Hidup

Penyerahan SertifikatWakatobi 10 Oktober 2014, Agussalim selaku supervisor pelatihan dari BPPP Ambon menghadiri pelaksanaan pelatihan di P2MKP Piyuka Setia Mandiri di Mola Utara. Dalam sambutannya pada pembukaan pelatihan dia mengajak masyarakat untuk melihat sisi positif pemerintah yang di antaranya terbukti melalui program kegiatan pengembangan kapasitas pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan pelatihan. Dia juga menambahkan pentingnya tiga hal utama dalam membangun kemajuan masyarakat yakni pendidikan/pelatihan, internet sebagai media komunikasi, dan jejaring kerja untuk meningkatkan potensi pendapatan. Menurut Agussalim, ketiga hal tersebut sangat penting menjadi perhatian masyarakat apalagi mengingat bahwa dalam waktu dekat mau tidak mau masayarakat harus beradaptasi dengan masyarakat ekonomi Asean atau MEA.

di KJA di MolaHj. Sitti Nurhayati atau akrab disapa Ibu Haji, selaku Ketua Pengelola P2MKP Piyuma Setia Mandiri Kabupaten Wakatobi menyatakan terimakasih yang dalam kepada BPPP Ambon yang memberikan perhatian kepada masyarakat Wakatobi dengan memfasilitasi pelaksanaan pelatihan di P2MKP Piyuma. Menurutnya alasan Piyuma berfokus pada penanganan ikan kerapu sunu adalah agar para nelayan paham dan mampu menerapkan pola penanganan yang standar sehingga produknya berupa ikan kerapu sunu hidup dapat diterima dipasar ekspor. Haji Nurhayati yang sudah 20 tahun membina nelayan juga memberi motivasi peserta bahwa dengan cara penanganan yang baik maka pendapatan masyarakat melalui kegiatan penangkapan ikan kerapu berpotensi membangun ekonomi masyarakat agar lebih meningkat.

Muhammad Nur dan Nanda yang bertindak selaku pelatih pada pelatihan ini memberikan materi seputar penanganan ikan kerapu sunu hidup berkualitas pemasaran. Dalam materinya mereka  menyampaikan tentang penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan berupa pancing, serta menghindari penangkapan yang merusak lingkungan seperti potasium, bom, kompressor dan alat lain yang merusak. Wawasan konservasi juga diberikan bagi peserta agar selain memburu keuntungan ekonomis mereka juga ingat untuk melestarikan lingkungan. Kegiatan praktek berupa penanganan ikan kerapu sunu hidup dilakukan di atas kapal dan di keramba jaring apung.

Foto bersama di KJASelain menjadi supervisor pelatihan, Agussalim juga memberikan materi suplemen buat peserta pelatihan berupa pemanfaatan internet untuk kewirausahaan perikanan. Dalam materi tersebut, dia menyampaikan bahwa saat ini setiap produk khas daerah bisa dipasarkan tidak saja di pasar lokal tetapi juga pasar luas melalui media online. Agussalim memacu semangat para nelayan untuk belajar internet yang bisa dilakukan melalui smartphone yang juga banyak dimiliki nelayan. Selain itu widyaiswara BPPP Ambon ini juga menyampaikan tentang pentingnya jiwa wirausaha dimiliki oleh setiap pelaku utama bidang perikanan, karena dengan pengetahuan wirausaha, maka produk yang dihasilkan oleh nelayan bisa dijual dengan nilai yang layak, selain itu pengetahuan wirausaha juga akan membangkitkan kreativitas dan inovasi usaha para nelayan untuk membuat diversifikasi produk hasil tangkapan atau budidaya mereka.

 

Berlatih Bersama Ibu-Ibu Pengolah Ikan Latuhalat dan Batu Merah di Bawah Bimbingan P2MKP Fajar

Foto Bersama

Tanggal 24 sampai 27 Februari di P2MKP Fajar Desa Latuhalat dilaksanakan Pelatihan pembuatan abon ikan dan bakso ikan. Pesertanya berasal dari ibu-ibu rumah tangga dari Desa Latuhalat tepatnya Dusun Waimahu, Dusun Omputty dan Dusun Analu sebanyak 10 orang. 10 orang peserta lagi berasal dari Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon. Pelatihan berlangsung selama empat hari, di bawah bimbingan pelatih Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan.

Praktek

Sambutan Agussalim

Pelatihan ini dibuka oleh Agussalim, S.Pi mewakili BPPP Ambon selaku supervisor pelatihan. dalam sambutannya dia menyampaikan apresiasi yang besar terhadap Farida Matatula dan stafnya di P2MKP Fajar Latuhalat atas upaya yang serius membangun sarana dan prasarana pelatihannya. Agussalim juga memberi motivasi para peserta dengan mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan di atas tambang emasnya, sisa dikenali keberadaannya, dan tambang emas masyarakat Maluku adalah laut dan perikanan, sisa digali dengan pengetahuan dan keterampilan.

???????????????????????????????

Pelatihan berlangsung lancar dan peserta merasa sangat puas karena berhasil membuat produk abon ikan dan bakso ikan. para peserta membuat rencana tindak lanjut pada akhir pelatihan seperti membuat olahan bakso dan abon bersama kelompoknya untuk dikonsumsi keluarga dan dipasarkan di Kota Ambon.

Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Hias di Daerah Terumbu Karang Bagi Kepentingan Pembangunan

Ikan hias merupakan salah satu sumberdaya ekosistem terumbu karang. Ikan hias air laut adalah jenis ikan laut yang dimanfaatkan keindahan visualnya, biasanya dipelihara dalam akuarium. Habitat ikan hias air laut adalah terumbu karang, dimana terdapat terumbu karang yang sehat disanalah ikan hias berkumpul. download selengkapnya di sini

Dari Cakalang Jadi Tortilla, Karya Penyuluh Handal KKP

Satu lagi produk unggulan perikanan berbahan dasar ikan cakalang telah hadir dan menjadi pilihan makanan ringan dan bergizi tinggi buat keluarga. Namanya Tortilla, mirip Gozilla, tapi tidak sejenis. dari nama yang dipilih oleh perusahaan pembuatnya terkesan bahwa makanan ini memiliki rasa yang khas.

Mengkonsumsi Tortilla, sama seperti mengkonsumsi beberapa ekor ikan cakalang sekaligus. Tentu saja itu akan berakibat pada peningkatan suplay gizi ke dalam tubuh. makan (sejenis cemilan) ini diproduksi oleh perusahaan perikanan yang masih tergolong baru yang didirikan oleh sekumpulan penyuluh Perikanan yang andal dalam membuat produk. Oleh pendirinya, perusahaan yang memproduksi Tortilla diberi nama PT. Singa Laut Jaya, dengan harapan produknya akan menguasai pasaran produk olahan hasil perikanan.

Berikut nama-nama pendiri perusahaan :Kelompok Tortilla

Prisniardi, SST

Agustina M. Masella, SE

Feriyanti, SP

Dadang Saefulah, S.Pi

Agustinus Souisa

Bernardina Rettob, S.Pi

Jaenuddin Arsyad, SP

Yames Berthy Nunumete

Flaurence V. Peggy Kayadoe, S.Pi

Dominggus Lololuan, S.Pi

Siapa yang tak kenal dengan Tortilla. Makanan ringan asal Mexico yang disukai anak-anak hingga orang dewasa ini telah menglobal di seluruh dunia termasuk Indonesia. Dengan kepopulerannya makanan sejenis keripik  ini menjadikan keuntungan tersendiri dalam promosi produk pembuatnya. Dengan demikian usaha pembuatan tortilla ini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi industri rumahan yang sukses.

Tortilla mudah dibuat, dengan menggunakan peralatan sederhana yang terdapat di rumah tangga.

Proses pembuatan tortilla merupakan gabungan dari beberapa proses, yaitu: perebusan, perendaman, pencucian, penggilingan, pencetakan, pengeringan, dan penggorengan.

 

Sekilas Tentang Tortilla

TortillaTortilla adalah salah satu jenis keripik atau chips yang berbahan baku jagung yang mudah dibuat dengan biaya murah. Tortilla memiliki bentuk yang beragam seperti segi lima, bulat, segi tiga, persegi atau persegi panjang yang umumnya berukuran 2 x 3 cm. Penambahan aci sagu dalam pembuatan tortilla bertujuan sebagai perekat dan pengembang sehingga dihasilkan tortilla yang ringan, renyah dan meningkat volumenya.

Tortilla adalah makanan olahan khas dari Mexico. Hal ini karena tanaman jagung berasal dari Mexico. Columbus penemu benua Amerika membawa jagung ke Sevilla (Spanyol). Sehingga kata tortilla diambil dari bahasa Spanyol yang berarti jagung.

Makanan sejenis keripik ini sangat cocok untuk camilan, dengan ukuran, ketebalan dan pemasakan yang berbeda-beda disetiap negara, karena itu tidak ada standar yang baku bagi tortilla. Tortilla yang baik dicirikan dengan bentuk seragam, warna kuning cerah, mempunyai tekstur renyah atau mudah patah, mempunyai partikel yang halus dan mengembang, menyerap sedikit minyak serta mempunyai rasa khas jagung panggang.

 

Pembuatan Tortilla ikan

Selama ini belum ada yang menggunakan ikan dalam pembuatan tortilla. Penggunaan ikan dalam pembuatan tortilla bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi tortilla tersebut, sehingga memberikan nilai lebih dan meningkatkan daya jual dan nilai ekonomis dari tortilla yang selama ini hanya berbahan dasar jagung saja.

Disamping itu juga untuk menggalakan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) yang memotivasi masyarakat untuk mengkonsumsi ikan secara teratur dalam jumlah yang disyaratkan bagi kesehatan agar terbentuk manusia Indonesia yang sehat, kuat dan cerdas.