Selamat Datang di Website Pribadi Agussalim – Widyaiswara Kementerian Kelautan & Perikanan RI – Mobile Contact: 085242074257

Ikan Gabus untuk Pencegahan Stunting dan Siklus Ekonomi Baru

Stunting atau kekerdilan yang sering dialami bayi dan anak-anak karena kekurangan gizi banyak menjadi persoalan di negara berkembang. Kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat menjadi salah satu faktor pemicunya. Oleh karena hal itu berhubungan dengan masa depan generasi sebuah bangsa, maka pemerintah tidak boleh tinggal diam dan membiarkan kondisi tersebut terus terjadi, karena akan membahayakan bangsa itu sendiri di masa depan. Maka sebagai negara yang ingin memastikan masa depan generasi penerusnya cemerlang, maka pemerintah kita memprogramkan pengentasan stunting sejak tahun 2015 melalui RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional).

Hal ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pengantarnya pada dokumen Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (stunting) Periode 2018 – 2024. Kekerdilan (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita (Bawah Lima Tahun), sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun. Dengan demikian periode 1.000 hari pertama kehidupan seyogyanya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang di masa depan.

1. Intervensi Gizi untuk Pencegahan Stunting

Pencegahan stunting merupakan program nasional yang melibatkan berbagai lembaga kementerian dan setingkat kementerian. Di dalamnya terdapat banyak intervensi gizi spesifik dengan kelompok sasaran tidak hanya kepada bayi dan anak, tetapi juga kepada ibu hamil, ibu menyusui, bahkan kepada remaja dan wanita usia subur. Bentuk intervensi prioritas yang dilakukan antara lain pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dari kelompok miskin, suplementasi tablet tambah darah, tata laksana gizi buruk akut, serta pemberian makanan tambahan pemulihan bagi anak gizi kurang akut. Intervensi penting lainnya berupa pemberian suplemen vitamin A, kalsium, taburia, zinc, imunisasi, manajemen terpadu balita sakit (MTBS), dan pencegahan HIV, kecacingan serta perlindungan dari malaria, (tnp2k.go.id/filemanager/files/Rakornis 2018).

2. Kandungan Ikan Gabus untuk Gizi Bayi dan Ibu Hamil

Dikutip dari laman www.popmama.com/baby/7-12-months/, di dalam 100 gram ikan gabus mengandung sebanyak 69 kalori, 25,2 gram protein, 1,7 gram lemak, 0,9 miligram zat besi, 62 miligram kalsium, 76 miligram fosfor, 150 miligram vitamin A, 0,04 miligram vitamin B, dan 69 miligram air. Semua kandungan tersebut sangat baik untuk dikonsumsi oleh bayi saat masa MPASI (makanan pembantu ASI). Kandungan protein dalam ikan gabus dapat membantu proses pembentukan sel tubuh dan otot. Ketika si Kecil mengonsumsi ikan gabus, maka si Kecil akan mendapatkan asupan protein untuk otot dan tulang. Selain itu juga protein dapat dijadikan sebagai sumber energi bagi si Kecil. Protein yang terdapat pada ikan gabus juga memiliki fungsi untuk mencerna dan melepaskan asam ke dalam darah yang akan dinetralkan oleh tubuh dengan kalsium. Jika si Kecil rutin mengonsumsi ikan gabus, tubuhnya juga akan kuat untuk melawan berbagai penyakit, khususnya yang diakibatkan adanya perubahan cuaca.

Ikan gabus mengandung protein albumin yang tinggi untuk membantu pencegahan gizi buruk pada anak dan ibu hamil. Di dalam 100 gram ikan gabus terdapat banyak nutrisi dan gizi yang sangat penting untuk kesehatan si Kecil. Usianya yang masih balita membuat tubuhnya rentan terkena berbagai penyakit. Oleh karena itu si Kecil membutuhkan asupan yang dapat membuat tubuhnya kuat untuk melawan virus dan bakteri. Ikan gabus memiliki kandungan zinc yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Sehingga si Kecil akan lebih kuat untuk melawan virus dan bakteri yang akan masuk ke dalam tubuhnya. Kandungan mineral pada ikan gabus juga berguna untuk sintesis DNA, tumbuh kembang bayi, dan pertumbuhan sel yang akan membuat si Kecil bertumbuh dengan baik.

3. Ikan Gabus Sebagai Bahan Baku Lokal dan Siklus Ekonomi Baru

Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, dengan mempercepat diversifikasi pangan berbasis sumber daya pangan lokal, merupakan salah satu strategi pencegahan stunting (tnp2k.go.id/filemanager/files/Rakornis 2018). Salah satu sumber pangan lokal yang potensial adalah ikan gabus. Ikan gabus dengan nama latin Channa sriata tersebar hampir di seluruh perairan umum di tanah air, dengan nama lokal yang beragam. Kabar baiknya, survival rate atau ketahanan hidup ikan gabus di alam sangat tinggi, dan selain tersedia di alam, ikan ini juga bisa dibudidayakan oleh pembudidaya ikan. Ikan ini juga sudah dikenal oleh masyarakat secara turun temurun sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit, bagi semua golongan usia. Meskipun di sebagian daerah ikan ini sudah dieksploitasi tetapi di sebagian daerah yang lain potensinya nyaris belum dikelola sama sekali. Sehingga juga potensial untuk menjadi sumber nutrisi pencegahan  stunting dan peningkatan gizi anak.

Melalui pengelolaan ikan gabus menjadi sumber gizi untuk pencegahan stunting, maka akan tercipta sebuah siklus ekonomi baru, dimana pangan dan gizi keluarga diperoleh dan dikelola dari sumberdaya lokal, dan dimanfaatkan untuk pencegahan stunting anak-anak masyarakat setempat. Selain menumbuhkan ekonomi pelaku penangkap ikan dan pembudidaya ikan gabus, juga ekonomi pengolah ikan gabus, baik yang skala tradisional seperti ikan gabus kering, maupun skala industri seperti pengolahan ekstrak ikan gabus menjadi suplemen kesehatan atau obat tradisional. Di sisi lain, hal ini tentu saja bisa menghemat anggaran negara dalam hal penyediaan suplemen yang akan disalurkan dalam program pencegahan stunting, terutama jika suplemen tersebut berasal dari luar negeri atau berharga mahal.

Stunting sebagai sebuah masalah nasional yang sudah diprogramkan untuk ditangani dengan pelibatan banyak sektor, sudah selayaknya jika mendapat perhatian banyak pihak, termasuk di antaranya akademisi dan praktisi perikanan. Seperti diketahui bahwa salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini adalah “Kampung Ikan”. Program nasional pencegahan stunting akan menjadi hulu dari kampung ikan gabus jika dikoneksikan. Ikan-ikan gabus yang dibudidayakan akan sepenuhnya terserap pasar jika dekelola menjadi pangan sumber gizi penanganan stunting, sehingga masyarakat akan lebih semangat karena berada dalam sebuah siklus ekonomi baru, sumber pendapatan baru, di tengah sulitnya situasi ekonomi karena pandemi saat ini.

Agussalim (Trainer pada Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.